Cukup aku mencintaimu saja dalam diam,
Lalu mematikan seluruh harap dalam dada,
Lantas sebait tanya mengusik benakku,
Pernahkah aku terlintas di pikiranmu saat kau tak rindu aku?
Kau lihat jendela yang basah itu,
Manakah yang lebih tabah,
‘Hujan Bulan April’
Ataukah Hujan Rinduku yang pernah membasahi sajak-sajak saat menuliskan tentangmu,
Selalu ada alasan,
Mengapa aku ingin selalu menjadi bagian dalam hening do’amu,
Selalu itu tentang sebuah pinta akan cinta dan rindu
Jalan ini sepi,
Setelah karnaval pergi,
Tawa tangis melodrama cinta ada disana,
Meriah tersisa cuma jejak-jejak luka.
“Selamat Tinggal Cinta”
Abadimu hanya ada dalam sajakku..
Karena aku baik, Maka bahagialah
”Itu doaku”







