Tiba-tiba kamu muncul dan terasa sama seperti kemarin. Kita memang sudah saling kenal sebelumnya. Namun kini, kamu menghadirkan getaran yang kurindukan. Hal yang membuatku mengulum senyum saat notifikasi chat darimu tampak di layar Laptop.
Terkadang aku merasa tak pantas untukmu sebab masa laluku. Namun tak mungkin kupungkiri bahwa hati berharap, agar bisa bersanding denganmu. Jadi kugunakan waktu dan kesempatan dalam jarak ini untuk memperbaiki diriku. Meski tak pernah bisa merubah masa lalu kelamku. Semoga saja. Aku hanya bisa berdo'a kamu mau hadir sejenak.
Tak kalah penting dari itu. Ridha Tuhan lah yang kuharap menyatukan kamu dan aku. Sebab jika semua itu adalah kehendakNya, tak pernah akan ada luka. Sebab rencanaNya selalu yang sempurna. Hanya saja kekerdilan kita sebagai manusia sering mengartikannya berbeda. Aku sungguh berharap, Dia menganggapku pantas untukmu. Sehingga kuasaNya menggerakkan hatimu untuk melihatku.
Kupasrahkan kamu dengan do'a. Ku ikhtiarkan dengan usaha. Aku tahu aku tidak sempurna. Pun kamu. Meski aku tidak tahu sebab apa yang menggetarkan hatiku. Aku sungguh berharap, denganmu-lah kuarungi sisa hidupku.
Pada apapun yang datang dan yang akan pergi Maka biarkanlah,
mungkin memang sudah seharusnya begitu. Semakin diselami, semakin berbahaya. Kenangan-kenangan di masa lampau seolah-olah hadir di antara lembaran-lembarannya.
Kamu memperlakukanku seperti seseorang yang ingin kamu jaga dan itu semakin membuatku yakin, bahwa kamu merasakan hal yang sama. Tapi, aku tidak tau beban seperti apa yang mengikatmu hingga tak satupun kata yang bisa keluar dari mulutmu. Jawaban itu tidak pernah kuketahui sama seperti tak pernah kuketahui kapan perasaan ini akan terbilang. Bahkan, hingga kamu berlalu pergi, kita masih bukan siapa-siapa. Dan bagian tersedihnya bukan ketika aku gagal menahanmu pergi. Tetapi ketika aku gagal memilikimu sekaligus gagal melupakanmu.
Jika kamu merasa aku tak cukup mengerti tentangmu, maka tunjuhkan aku caranya seperti apa???
Inilah saya, tidak setiap orang dilahirkan dengan kekuatan untuk selalu mengatakan padamu, apa yang sebenarnya ia rasakan. Sekarang semua tergantung padamu jalan mna yang ingin kamu pilih sebab ada 2 jalan; jalan pulang atau jalan pergi. So i can't escape this now. Unless you show me how...
hujan, bintang, kilat. Dan aku masih ingat jelas katamu kalau jarak bukanlah suatu masalah selama hati kita dekat. Detik ini, aku membenarkannya. Asalkan tau kabarmu saja, titik kita berdiri tidak lagi punya distansi. Raib. Aku dan kamu lalu jadi satu. Bukankah cinta itu ajaib? Semoga di sana kamu juga sempat mengiyakannya. Tapi, jarak tetaplah jarak. Tidak bisa kita lipat begitu saja. Kadang-kadang malah mengacaukan semua. Di ujung sana, kau tinggal bersama kalender yang penuh dengan coretan yang masih melibatkanmu
Tak bisa kuhitung berapa banyak bintang di angkasa. Semakin lama, semakin penuh saja. Aku menyerah, tak mampu lagi menghitungnya karena kelelahan. Tapi kamu tidak perlu tau; lelah karena apa. Mungkin semuanya akan jauh lebih mudah–jika hal-hal yang pernah diawali dulunya, selalu bisa diakhiri tanpa beban. Seperti perasaan ini. Sayangnya, aku kerap kali terjebak di tengah-tengah, dilema; denganmu atau tanpamu.
Aku tak menyesal, sedikitpun. Karena hidup tak pernah mengenalkan hal yang sia-sia, hanya kadang waktu kita selalu keliru. Dan aku seperti biasanya akan tabah, dilempar olehmu untuk kemudian dipeluk erat kembali. meski hatimu kini, entah milik siapa. Aku takkan pernah, takkan pernah bisa lupakan semua cerita kita.
Seandainya aku dapat melakukan apa saja untuk mengembalikan hal-hal yang berubah itu, aku pasti akan melakukannya. Menyapamu, menemuimu, menganggap tidak pernah terjadi apa-apa. Ada pertanyaan yang tidak kau tanyakan, tapi rasa-rasanya aku ingin sekali menjawabnya:
tentang mengapa aku membalas sapaanmu waktu itu?
tentang mengapa aku tidak mengabaikanmu?
tentang mengapa aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi?
“Karena aku punya perasaan bahwa kamu adalah orang baik, orang yang tepat yang dihadirkan Tuhan untuk menciptakan bahagia untukku” adalah jawabannya. Dan biasanya, perasaanku tak pernah salah.
Dan kamu, pada saatnya nanti, akan terkejut bahwa ternyata selama ini aku adalah orang yang tergila-gila mencintaimu, merindukanmu seperti tak ada orang lain lagi yang bisa dicintai.
Say you love me too, if you don’t, you can lie.
Akuilah, salah satu bagian terbaik dalam hidup adalah mengetahui kamu dicintai oleh seseorang yang kamu dambakan dengan cara yang kamu inginkan.
Aku selalu ingin bertanya pada semesta, tentang bagaimana cara angin merayu awan untuk menjatuhkan hujan; tapi aku tak berdaya. Sama tak berdayanya aku mempertanyakan perihal hati yang jatuh ini, padamu. Apakah cinta terjadi begitu saja atau kita yang rancang? Hati manusia adalah hujan; yang tidak pernah tau kapan harus terjatuh. Tapi kemungkinannya selalu fifty-fifty; pertama, jatuh dan jika beruntung akan ditadah atau kedua, jatuh lalu terkubur hingga seseorang mencarimu. Dan hingga saat ini aku masih menjadi yang kedua.
Terkadang, ada beberapa hal yang sulit untuk disampaikan, iya ‘kan?
Seperti halnya aku yang tak bisa memberitahumu bahwa:
Aku ingin menghilang (tapi tak benar-benar hilang); hanya penasaran seberarti apa aku bagimu.
Aku ingin disapamu; untuk menyenangkan diriku sendiri karena setidaknya aku ada dan singgah di pikiranmu.
Aku ingin dibuatmu tertawa karena candaanmu; kau tau aku selalu menyukai obrolan apapun, asalkan itu denganmu.
Aku bukannya ingin bikin kamu bingung, tapi…
Aku hanya ingin kamu belajar peduli padaku; entah kamu dengan (atau milik) siapa.
Aku hanya ingin kamu tau; kamu sebagai seseorang yang dihadirkan Tuhan untuk membahagiakanku, pada satu masa, meski hanya sebentar. Aku pernah dibilangin sama seseorang “jatuh cintalah tepat ketika hatimu sudah siap untuk dipatahkan”. Lalu aku pun mengerti kadang, kita harus menerima: apa yang tak terjangkau biarlah tetap tak terjangkau. Begitulah para pecinta mencintai dengan sangat baik.
Terima kasih untuk segalanya. Mudah-mudahan aku bisa tersenyum setelah ini, saat aku mampu berkata dalam hati, “beruntung aku pernah mengenalmu, beruntung aku pernah bersamamu, dan keberuntungan-keberuntungan lainnya yang tidak akan lagi menjadi nyata.” Ucapan itu memang bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh proses yang sayangnya, tidak sebentar. Tetapi aku percaya, ada satu hari yang paling baik untuk melupakanmu. Sementara kubiarkan memori ini terbang, melayang, meliuk kemana saja dia suka, menipis, lalu hilang tanpa bekas.
Kelak, kamu pasti hilang dari ingatanku.
Pasti...
Tuesday, April 19, 2016
Home »
Artikel Cerita
» Semua Ini Hanyalah Masalah Waktu
Semua Ini Hanyalah Masalah Waktu
Shopee Indonesia | 7:27:00 AM |
Artikel Cerita








