Ketika malam tiba dan para binatang berpesta , aku baru beranjak di tempat itu. Kembali merasakan rasa syukur pemberian tuhan dengan reseki makanannya. Sehabis itu mengeja layar berita sekedar mengetahui kejadian apalagi yang terjadi di negeri indonesia tercinta ini.
Malam semakin gelap ditambah udara dingin sehabis hujan .Mungkin ini hal terbaik mengeja mimpi bersama lelapku . Barangkali disana aku dapat melihat yang ku cari di beranda rumahku tadi. Yah!! sekedar penghibur bunga-bunga mimpi agar aku tak lupa bahwa besok aku akan melakukannya lagi sama persis seperti sore tadi.
Pagi hari tiba, mentari mulai kembali perlahan bertahta , pelan tapi pasti.Di temani ayam yang berkokok. Di dekat jendela masih kutemui embun-embun di daun dan di kaca jendela kamarku. Lansung saja ku ukir sebuah nama seseorang namun mentari yang mulai meninggi menghapusnya sedikit demi sedikit menguap menjadikannya udara terbawah sampai ke awan. Semoga saja nama itu menjadi sebuah hujan dan membawahkan sesuatu yang indah yang selama ini aku ingin melihatnya di beranda rumahku.
Tepat 24 hari. Sejuk udara masih tersisa sebelum panas mentari mengambil alih menjadikannya panas memberi keringat kepada para buruh-buruh pekerja bangunan yang tiap hari berjemur menguras tenaga demi memberi senyuman pada keluarganya. Berbeda dengan pekerja kantoran yang berangkat dengan mobil yang seakan takut dengan cahaya matahari bernaung di antara mesin-mesin yang konon katanya penghargaan tertinggi manusia kepada manusia berasal dari deru mesin yang mahal harganya. Bagiku itu hanya legenda , mungkin juga mitos yang di rancang manusia agar kita semakin semangat di sibuhkan dengan dokumen-dokumen kantor, bahagianya hanya pada saat terima gaji bulanan. Aku berkata seperti itu karena mungkin aku tak terlalu berambisi mendapatkan kertas banyak atau biasa disebut uang, aku tak terlalu berambisi menjadi kaya lalu di hargai dan di hormati atas pencapaian itu. Karena diantaranya ada terselip pertanyaan; Apakah orang yang datang menghargaimu itu tulus dari hati??? Apakah kamu bisa menjamin orang-orang itu tahkan meninggalkanmu di saat kamu jatuh dan berada di bawah?? Petanyaan itu akan melekat terus seiring pencapaian yang engkau dapatkan.
Seiring dari itu siang pun tiba dan langit mulai mendung. Sepertinya akan hujan (gumamku dalam hati). Benar saja tidak lama kemudian hujan turun. Dengan segelas kopi dan sebatang rokok di tangan aku mulai memadu padamkan asap kopi dan rokok melebur menjadi satu melayang di udara lalu hilang sekejab di depan mata tertiup pergi di bawah hembusan dingin hujan. Satu,Dua,Tiga rokok habis hujan pun reda. Semoga saja hari ini aku melihat apa yang kucari selama 24 hari ini sehabis hujan. Percaya tidak percaya aku melihat tuhan mewarnai langit dengan cara yang indah, memberi lengkungan sederhana namun sempurna. Pelangi yang 24 hari ini kutunggu akhirnya dapat kunikmati di antara sisi bukit. Aku pun menikmatinya dan tak pernah ku sia-siakan keajaiban ciptaan tuhan yang sangat indah itu. Cukup lama mataku memandangnya hingga sampai senja emas memerah menggantikan sisi indah lain dari ciptaan tuhan yang tak kalah indah. Seiring itu malam pun kembali menjelma sebagai tanda esok akan kembali indah lagi pada tempatnya. Dan dari situ aku mengetahui sebuah rahasia “ Bahwa hidup akan menjadi lebih indah ketika tuhan terlibat di dalam keindahan itu...”
TAMAT.
Penulis: Pemilik Blog (WAHYU)








