head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Saturday, April 23, 2016

Mesin Waktu

Google+



Waktu dan segalanya akan menbcair menguap, kecuali aku. Secangkir kopi, dan setangkup dugaan-dugaan. Sebuah rahasia jatuh di antaranya. Kita sama-sama tahu. Sama-sama bisu.

Apakah kau merasakan hujan yang tiba-tiba menyergap percakapan kita? menaburkan serbuk malam di sekitar suasana. Kembali kita mencari sesuatu itu pada masing-masing mata. Ada puluhan resah yang ingin diucapkan oleh dinding kaca, meja-meja berwarna pastel, dan kepulan asap rokok. Masih kita.

Kau bilang wajahku seperti permukaan laut. Dan aku membayangkan engkau sebagai angin atau gempa bumi, atau apa saja yang mampu menciptakan ombak. Lalu esok paginya seorang nelayan akan menemukan ikan-ikan bergeleparan di pantai. Kau dan aku di tengah-tengahnya, di ketenangan matahari terbit menyaksikan puisi itu menguap seperti koreografi tarian tradisional.

Sebuah pertunjukan pada layar digital. Musik dan film adalah bahasa yang tak bosan-bosannya menghubungkan kita. Ada jeda dan hening yang panjang, kecuali itu lengan kita yang dingin saling bersentuhan. Menciptakan kisahnya sendiri, larut dalam degup nadi. Aku ingin seorang fotografer datang sore itu, agar bisa mengabadikan adegan demi adegan, agar di kemudian hari, mereka menjadi sesuatu yang kau tak ingin berhenti memandangnya.

Usia hanyalah perangkap, dan kita tak harus menjadi dewasa. Di kemudian hari aku bertanya-tanya, namun kemudian menjawabnya sendiri : mengapa tuhan menciptakan wanita sejenaka dirimu? tentu saja agar laki-laki malang sepertiku bisa sedikit hidup lebih lama di dunia, pikirku.

Seorang penulis menceritakan bahwa surga diciptakan sebagi sebuah ruangan yang dipenuhi dengan jutaan buku, sementara dalam toko buku selalu saja terjadi  adegan-adegan favoritku. Ini adalah arena bermain bagi masa kanak-kanak yang setia berdiam diri dalam tubuh kita. Di antara jutaan eksemplar kertas yang berusaha memuntahkan kisah-kisah dari dalam tubuhnya. 

Aku menjadi kepala ular, kau menjadi tubuh yang mengikutinya, aku berlari dan kau menemukan, aku berhenti, dan kau terus saja berbicara. Kau palingkan mukamu membelakangiku, sejenak rambutmu yang panjang hitam bagai malam berayun ibarat daun-daun pohon khuldi yang jatuh tertiup angin. Aromamu, pastilah parfum racikan Jean Baptise Grenouille. Menguap, menelusup ke bagian-bagian terkecil syaraf, memenuhi tiap inchi ruangan dengan keindahan-keindahan yang membunuh. Lalu setiap benda tiba-tiba melayang-layang di udara, buku-buku memasak, novel remaja, manga-manga, lemari besi, spidol warna, pensil, rak-rak buku, diriku.



Aku tak pernah percaya mesin waktu namun kamu bisa membuatnya, atau memilikinya, agar bisa selalu kembali ke saat-saat bahagia. Saat pertama kali pelukan paling menghangatkan menyentuh hingga sampai ke dalam jantungku. Dan dari situ aku baru sangat paham bahagia itu simple, sederhana. Kesini aku beri tahu tanpa perlu memiliki mesin waktu; Cukup mengingat sesuatu yang membahagiakan, lalu hentikan waktu tepat saat itu. Maka, bahagiamu tahkan pernah selesai.



Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+