
Maghrib, ada yang bingung dan linglung, menatap langit merah dengan kelam di ujung, gelisah luntanglantung mencari di antara mendung, matanya liar tak berkedip. Hanya mata di kakinya mengajak berjalan, arahnya entah, tujuannya antah.
Maghrib, tak ada kulit kerbau dipukul berirama, hanya lempengan cakram perekam berkualitas kaki lima, memanggil, mengajak. Dan ada yang terpuruk menutup telinga dengan penyumpal kapas, menutupnya sampai ke hati, sampai ke jiwa. Kemudian Isya datang, ia pulang ke ranjang jalang.
Maghrib, cuma iklan di televisi negeri ini.






