Syair-syairku tak mampu menembus dingin hatimu
hancur berkeping terseret arus linang air mata,
dulu, sekarang, adalah nanti tak perna kau mengerti
Bunga…
Demi hujan yang tak pernah letih menyirami mewangi kuncupmu
demi hujan, sungguh telah ku patri namamu
kala mata lelap dan terjaga
Sekalipun senyummu bukan untukku
bahagialah aku atas cinta
yang pernah kau bawa dalam kecut tawa nan hampa
tetapi aku bahagia melebihi tawa bocah-bocah
Bunga…
denyut, dan matiku karenamu setelah Tuhan






