“Aku adalah rindu yang kau sebut parau di ujung pengharapanmu, bahwa kita masih berada di bawah langit dan bulan yang sama. Aku adalah senyap yang engkau lantunkan dalam kesendirianmu di luar sana. Dan aku adalah masa depanmu yang engkau sebut lirih dalam doamu.Bahwa semakin pekat malam sebagai pertanda fajar akan segera datang. Bahwa ketika hari berganti akan ada harapan baru yang akan engkau temui.”
Begitu mimpi membisikiku perlahan, bahwa suatu hari kau akan menjadi nyata dan aku akan memelukmu erat. Agar aku terus berani bermimpi dan berani mewujudkannya.
Kau, yang entah telah pernah kutemui atau asing sama sekali. Suatu hari kita akan menyusun kisah kita bersama. Ya, akan ada aku dan kamu yang kemudian menjadi kita. Apa kini kau tertawa membaca tulisanku, bahwa aku pernah memimpikanmu menjemputku untuk sama-sama mewujudkan kita.
Lucu bukan?
Kini kau berada di arizona yang tak pernah ku tahu. Entah apa yang sedang kau lakukan bahkan tak pernah terlintas dipikiranku. Ketika disini aku menulis tentangmu yang akan menemaniku kelak, aku bahkan tak tau siapa yang sedang kau pikirkan di luar sana. Apakah ada aku, atau bahkan asing sama sekali.
Kukatakan padamu, mungkin aku tak peduli tentang telah berapa kali kau jatuh cinta atau siapa yang membuatmu jatuh cinta pertama kali. Yang ku harap darimu, kau akan menjadikanku yang terakhir dan satu-satunya yang halal bagimu hingga kita hidup di surga.
Apa harapanku terlalu tinggi?
Aku tidak takut, karena aku punya Yang Maha Tinggi yang mendengar segala do’a yang mewujudkan setiap harap. Kenapa aku harus takut.
Aku tahu aku tak sempurna, bahkan mungkin begitu banyak kekurangan. Ku ingin kehadiranmu yang akan menyempurnakanku. Karena jika aku sempurna, bisa jadi aku tidak membutuhkanmu, tapi justru ketidaksempurnaankulah yang akan menuntunku padamu.







