
Awalnya aku tak pernah bermaksud untuk menjatuhkan hati padamu, tetapi saat itu senyummu terasa berbeda, tatapmu seakan menyiratkan sebuah harapan seperti yang kurasakan. Kau pun terlihat nyaman saat kita menghabiskan hari bersama. Hingga perasaan itu ku izinkan untuk tubuh subur didalam hati.
Kamu seperti membuatku percaya bahwa suatu hari semua perbedaan ini akan menemui muaranya. Kita akan tetap baik-baik saja. Alih-alih tak paham, kamu, kita, akan bahagia. Namun, seiring waktu aku baru sadar bahwa jodoh berbeda dengan keinginan cinta, terkadang ia adalah barang pinjaman yang sempat tertukar sebelum menemukan pemilik aslinya.
Jujur saja sejujurnya namamu pernah begitu gigih kutasbihkan. Mengaliri oksigen nafas tersenggal-senggal menuju puncak. Kamu sempat jadi alasanku bertahan di tengah perjalanan yang membuatku hampir mati karena kelelahan.
Hingga akhirnya aku mengerti aku hanya satu episode yang kamu nikmati sebaik mungkin, untuk kemudian ditinggalkan saat tulisan “Tamat”; “”; “The End” muncul di hadapan? Bukankah aku hanya persinggahan, yang pada akhirnya juga akan kamu lepaskan?
Bohong jika kubilang aku baik-baik saja. Merindukanmu adalah bentuk hukuman Tuhan paling menyiksa. Aku pernah mencoba untuk belajar melupakanmu namun yang kutemukan perasaan itu terus kembali menyeret setiap kenangan yang bahkan aku tak mengerti darimana datangnya tiba-tiba muncul begitu saja. Bohong besar jika ada orang jatuh cinta kemudian mengatakan ' Satu Banding Seribu ' karena kenyataannya yang Seribu itu tak mampu menggantikan yang Satu.
Setiap ujung malam, kugelung selimut agar mampu tidur dalam. Lebih dari sekali kamu menerobos masuk tanpa izin dalam impian, membuatku bangun dengan jantung berdebar kencang dan keringat yang mengocor seperti air keran.
Aku pernah jadi masokis yang suka menyiksa diri sendiri dengan mengunjungi tempat-tempat ke mana kita biasa pergi. Kubayangkan kembali betapa nyamannya jika kamu ada di sisi, mendampingi, meski hanya separuh hati. Kubuka kembali pesan-pesan lawasmu hanya demi sedikit rasa hangat di hati.
Tapi tahukah kamu apa yang paling menyiksa dari semuanya? Kejatuhanku yang sangat dalam padamu membuatku takut tak bisa lagi jatuh cinta. Kamu sudah mengambil semuanya, padamu sudah kuberikan segalanya — tak ada sekerat pun rasa yang tersisa untuk cinta selanjutnya. Aku mati rasa, hatiku tak bisa lagi membuka.
Dalam titik-titik terlemahku sempat terucap permohonan agar diberikan amnesia. Atau matikan saja aku, tak peduli jika Tuhan mengirimku ke neraka. Merindukanmu adalah bentuk terkejam dari hukuman Tuhan — kemampuanku sebagai manusia sungguh tak seberapa untuk menghadapinya tanpa kesakitan.
Aku memilih menjauh bukan karena kau tak lagi kucintai. Kini, izinkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Di mataku, ini bukan soal kepemilikan. Bukan soal kamu menemani siapa makan siang. Bukan juga soal bersama siapa kamu seharian. Semuanya soal keputusan. Ada yang harus berani ambil resiko dan memulai. Dan nampaknya, hatimu terlalu lembut untuk menyakiti. Maka, ijinkan aku mengawali.
Aku punya cara berbeda untuk menyayangimu. Pegang kata-kataku ini. Aku menjauh, bukan berarti membenci. Aku cuma mau kamu tahu bagaimana pentingnya kamu di hatiku. Aku cuma mau aku merasakan dunia bagaimana rasanya tanpa berbagi cinta dengan orang yang kita sayang. Aku ingin memberanikan diri merasakan belantara hidup tanpa peluk terbaik yang pernah ada, Aku ingin tahu, Bahagiakah aku jika bukan kau yang menyandingku??????????????????????







