head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Sunday, April 10, 2016

Hujan Di Tahun Ganjil Ku...

Google+

Ini cerita tentang hujan yang selalu turun hampir semuanya gerimis lembut. Bertahun-tahun si penikmat hujan merasakan hujan indah hingga tahun-tahun yang terasa ganjil itu datang dan mengubah hujan yang selalu dikaguminya.


Hujan kali ini tak lagi bersahabat, hujan kali ini terasa menyakitkan karena sering kali yang turun adalah hujan asam. Hujan terasa menakutkan karena banyak gemuruh guntur yang mengagetkan dan kilatan petir yang mengintip dengan lirikan mengerikan. Tak ada lagi hujan yang indah yang didapat seseorang itu dalam cerita. Seseorang itu, mungkin aku, kamu atau kita semua. Merindukan hujan yang indah, seperti dulu.

Mungkin kali ini aku haus menikmati hujan dengan cara yang berbeda. Biar rinai hujan menyampaikan sajak rinduku padamu. Maka itu, aku selalu membiarkan hujan turun. Karena mungkin saja, saat itu kamu tengah berdiri atau berada di balik jendela entah dimana, menegadahkan tanganmu menyentuh hujan, lalu kamu merasakan rintik hujan itu menyairkan bagaimana aku menyimpan rindu yang tersakiti di dalamnya.

Tirai gerimis jatuh di luar sana. Aku terbunuh setiap rintik gerimis itu jatuh. Mengetahui jika bulir air gerimis itu akan terlupakan. Hujan deras jatuh tak kunjung berhenti, Kerinduan ini ikut serta turun tak menuju reda. Aku terdiam di balik layar laptop, mengetahui jika aku mengatakan ingin selalu menjadi hujan, berarti aku seharusnya siap untuk terlupakan. Sebab setiap hujan yang pernah datang pun terlupakan. Ponselku seolah berkata padaku, dalam waktu satu atau dua tahun lagi, kamu akan pergi, ke sebuah tempat yang jauh. Dan, tak ada yang lebih menyakitkan dari apapun dari kebersamaan bisu ini kecuali mengetahui kamu mencipta jarak begitu jauh dan tak kan pernah benar-benar melihatku sebagai seseorang yang membutuhkan secangkir teh hangat untuk menyejukkan hujan yang dingin. 

Aku pun akan segera terlupakan dalam detik waktu yang kuhitung dari hasil mengeja hujan. Hujan. Ia mungkin saja terlupakan. Tapi, percayalah, setiap kali ia memiliki kesempatan untuk datang, ia selalu mengembalikan kenangan-kenangan semu tentang kita berdua yang tak pernah tersampaikan olehku. Hujan akan selalu ada, dimana pun kamu pergi, untuk mengingatkan kepingan kecil tentangku padamu.


Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+