
Aku yang sedang menunggu kepastian dari orangtuamu apakah aku boleh KESANA, ataukah harus tetap dipaksa bertahan DISINI. Intinya, kala itu kita sama-sama sedang terjebak dalam masa-masa menunggu, bernama sebuah penantian akan masa depan.
Sedang menanti permainan sang takdir selanjutnya, apakah ia akan menggiringmu kesitu, menuntunku KESANA, atau aku ditahan DISINI, dan kau tetap berlanjut DISANA. Atau kemungkinan lain, mungkin salah satu dari aku atau kamu akan di seret KESANA atau KESINI, sehingga aku dan kamu bermetamorfosa menjadi kita? Siapa yang akan di seret? Siapa yang akan ditahan? Aku ataukah kamu? Hah, hari-hari pengumuman itu sungguh membuatku berdebar, begitu antusias, dan... menggelikan. Haha.
Seusil itukah takdir mengukir kisah kita?
Menawarkan sebuah kesempatan untuk bergerak, menyuguhkan pilihan yang saling tabrak, jika tak A maka pasti B, jika bukan ini maka harus itu. Mau tak mau wajib tunduk pada sebuah agenda kehidupan bernama memilih, berikut dengan segala macam rumitnya konsekuensi yang mengekori pilihan tersebut. Tak bisa ambil semua, bahkan harus tetap menentukan pilihan antara dua hal yang dinilai penting, tak boleh serakah.
Hidup itu memiliki dua sisi, hidup itu rumit tapi sebenarnya sederhana tergantung dari kacamata persepsi yang dibangun ketika menata, menjalani, dan mengelola bahtera kehidupan itu sendiri. Hidup itu adil, harus pernah merasa sedih dahulu, jika ingin mengetahui apa itu sebuah perasaan bernama senang. Harus sakit dahulu sebelum tiba masanya akan sembuh. Tertawa saat ini, kelak akan berlinang air mata. Mendapatkan, kemudian kehilangan, atau sebaliknya. Hidup itu sebuah siklus yang amat kompeks. Ya, itu lah hidup.
Kembali bercuap-cuap seputar si takdir yang usil. Peluang demi peluang pun kemudian mulai bermunculan. Jika aku KESANA, di tempat dimana kau tetap bertahan DISANA, berarti aku dan kau akan menjadi kita
Kau tahu? Ah, ini kebiasaan, aku selalu melontarkan pertanyaan mubazir ini. Padahal aku sudah tahu apa jawaban mu. Kau tak pernah tau, dan bahkan tak mau tahu, tapi kadang kau tahu apa yang ku kira kau tak tahu dan enggan ku beritahu. Ah, kau memang semacam makhluk indah yang tidak jelas. Kenapa kau bertingkah begitu membingungkan? Andai aku dianugerahi kekuatan super untuk mampu membaca isi kepala dan hatimu. Heemmm, baiklah. Begini, salah satu mimpi di #DreamLife ku, kelak aku ingin berpasangkan dengan seorang perempuan berlatar belakang cinta yang memang itu benar-benar cinta tanpa embel-embel materi atau pun jabatan.
Nah, tapi harus diingat, dipahami, dan dicamkan. Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Dan, aku percaya ini. Aku percaya telah dipersiapkan kado yang akan indah pada waktunya untuk hidupku. Hidupku yang pendek atau mungkin diizinkan hingga kakek-nenek. Aku yakin, hidup itu adil.
Namun, apa jadinya bila kau KESINI, di area dimana aku dipaksa bertahan DISINI, berarti aku dan kau tetap saja akan menjadi kita
Kau tahu, satu hal yang cukup menarik dari ulah sang takdir yang mempermainkan kita:
Jika aku KESANA, dan kau bertahan DISANA, maka kita berda dalam dunia Teknik dan Kesehatan, sama-sama di cabang IPA ( Science ), salah satu couple yang buat ku tertarik sejak dulu. Walau itu berarti aku berhasil menggenggam mimpiku, namun kau mengalah dengan asa mu. Jika kau malah KESINI, sedangkan aku terpaksa bertahan DISINI, Kau meraih ingin mu, namun aku mengalah dengan mimpiku.
Jika kamu bahagia disitu, di pulau seberang sana. Tak peduli aku pindah KESANA, atau tetap bertahan DISINI, aku dan kamu tetap tak akan bermetamorfosa menjadi kita. Aku tetap aku, dan kau tetap kau. Bukan kita. Kau dengan inginmu, dan aku mungkin dengan mimpiku, disana. Atau bahkan tetap dengan sesuatu yang tak pernah ku impikan, disini.
Jika aku KESANA, dan kau KESINI, bukankah kau dan aku akan seperti sebatang magnet bi-polar dimana masing-masing ujungnya mengarah ke kutub utara dan kutub selatan? Saling bertolak belakang, tak berjumpa. Ah, apa ini sinyal dari sang takdir bahwa aku dan kau memang benar tak akan pernah menjadi kita? Seperti Artik dan Antartika yang tak akan pernah bersua, bertatap muka.
Nah, lalu apa jawabannya? Apa hasil keusilan takdir itu?
Kemudian, ini menjadi lucu yang memilukan ketika Tuhan menunjukkan bukti bahwa Dia menciptakan sebuah dunia yang adil. Ketika aku begitu ingin KESANA, atas hendak ku sendiri yang tak terpaut bayang mu sama sekali, dan ketika kau dengan asa mu, dengan dunia mu, dengan mimpi-mimpi mu, DISINI.
Ketika takdir membuatnya menjadi begitu rumit. Ketika takdir membongkar-pasang, menyusun ulang, mengatur nya, dan menyerahkannya pada tangan kita yang menengadah. Lalu, jawaban atas segala peluang-peluang itu pun telah diputuskan. Orang tua ku ternyata masih ‘memaksa’ ku bertahan DISINI, dan ternyata takdir tak pula merestuimu untuk lulus di pulau seberang situ.
Bahwa hasilnya, faktanya, miris akhirnya aku harus tetap terpaksa bertahan DISINI, dan kau di antarkan sang takdir untuk datang KESINI dengan suka citamu. Mau tak mau aku tetap saja harus melepaskan yang ada DISANA, dan kau juga tak akan lagi bergerak KESANA.
Kemudian persepsi ku berubah haluan, masih seperti kutub utara dan selatan, tapi tak dalam satu batang magnet yang sama. Kali ini ada dua buah magnet. Aku dengan kutub utara ku, dan kamu dengan kutub selatanmu, tarik-menarik, dipertemukan si takdir yang usil. Hm.
Jadi, intinya dunia itu memang lah sungguh adil, dan takdir itu memang amat usil. Andai orang tua ku tidak mengumbar harapan palsu, andai mereka memang benar menepati janji mengizinkan ku pindah KESANA, tak peduli DISANA masih ada kamu, atau kamu telah mengisi posisi di tempat yang hendak ku tinggalkan DISINI. Andai kamu juga lulus disitu, dan beranjak. Andai andai yang berlalu dibawa badai pilihan kehidupan. Haha.
Ah, entah apa yang sedang di rencanakan si takdir, aku tak tahu, kau pun pasti tak tahu, kita sama-sama tak tahu apa-apa. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ya, menunggu. Hanya menunggu, dan lihat apa hadiah untuk kita.
“ MASA DEPAN. Mungkin aku tetap akan menjadi aku.
Mungkin kau akan tetap menjadi kau.
Mungkin aku dan kau akan menjadi kita.
Mungkin aku dan kau kembali berteman biasa.
Mungkin aku dan kau tak menjadi apa - apa.
Atau,,,
Mungkin saja kau dan aku bukan siapa - siapa.
Entahlah, ini begitu buram. ”







