Pernah melihat seseorang jatuh cinta? Betapa kejamnya aku, ketika justru tertawa melihatnya. Menjadi pendengar yang baik kadang memiliki jatuh bangunnya sendiri. Bagaimana jika saat mendengar cerita-cerita mereka, aku diajukan pertanyaan yang sama dengan berada di posisi mereka. Seketika itu aku pun keluh. Entah karena memang tak tahu atau sekedar tak mau tahu.Menjadi pendengar yang baik kadang menjadi lahan yang baik untuk belajar tentang banyak hal, entah itu tentang kehidupan, kedewasaan, impian, masa depan, atau pengalaman.
Pernah suatu waktu aku mendengar cerita dari seorang kawan yang membuatku bingung tak menentu. Aku mengenalnya sebagai seseorang yang sangat tegas, keras, dan cukup sangar meski tetap saja aku masih bisa menerima sikap-sikapnya yang seperti itu, karna ku tahu begitu cara dia peduli. Yang mengagetkanku bukan ketika dia tiba-tiba marah padaku atau mendiamkanku, tapi ketika dia mengatakan tentang kelemahannya padaku. Ya, sekuat dan setegar apapun seseorang, pasti ada sisi lemah yang ingin dia sembunyikan dari semua orang. Sisi yang ia tak ingin seorang pun tahu tentangnya. Tahukah kau sisi lemah apa yang membuat orang setegar dan sekeras itu bisa luluh, hancur, dan berantakan? Ia adalah masalah hati.
Ini pelajaran baru bagiku kala itu, ternyata seorang laki-laki yang terlihat begitu kuat di luar bisa runtuh seketika, ketika hatinya telah tersentuh, apalagi terluka. Ia mendadak berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Apalagi ketika seorang perempuan menyakitinya. Rapuh, itu lah yang kulihat. Entah respon seperti apa yang pantas kutawarkan ketika menghadapi seorang kawan dengan kondisi seperti itu. Menyemangatinya? Sungguh itu tak mempan. Meyakinkannya? Percayalah, dia lebih bisa meyakinkanmu bahwa itu tak perlu. Lalu? Apa yang ku lakukan kala itu? Kau tau, aku hanya mendengarkannya. Mendengarkan ceritanya, tanpa berbuat apa-apa. Ku akui, masalah hati, itu diluar kendaliku. Siapa yang bisa mengatur hati seseorang, tentu hanya Penciptanya. Tapi tak mengapa, katanya saat itu hanya dengan menyempatkan mendengarkan, meluangkan waktu sepersekian menit untuk mendengarkan, memahami, lalu kemudian mengerti bisa memberi sedikit ruang di hatinya untuk berpikir lebih jernih dan tidak menyakiti diri sendiri. Memang benar, kala seseorang telah kau sentuh hatinya, lalu kau lukai dia, tingkat produktifitasnya bisa berkurang drastis, tidak hanya sekian persen, bahkan bisa seratus persen, dan tidak hanya satu dua hari, tapi berhari-hari.
Setelah mendengar ceritanya ini, aku mendapatkan sebuah pemahaman untuk ku ceritakan pada teman-teman wanitaku bahwa sekeras apapun laki-laki di luar sana, mereka tetap sama, mereka masih punya hati yang tak layak untuk disakiti. Jika tak mampu menjaga hati seseorang setidaknya jangan coba-coba menarik perhatiannya. Laki-laki itu makhluk visual, salah bersikap padanya bisa saja kau mencuri sebagian hatinya. Begitu pun dengan teman laki-laki yang di luar sana, perempuan itu makhluk perasa, gampang sekali geer-nya, jadi jika tak bermaksud serius dengannya, jangan coba-coba membuat mereka jatuh hati padamu. Hati kini menjadi barang “fragile” yang begitu mudah hancur, rentan, dan terluka.
Di lain waktu aku bercerita dengan seorang kawan lainnya, tentang cara laki-laki dan wanita jatuh cinta. Katanya, ketika laki-laki memiliki rasa suka dan tertarik pada lawan jenisnya, rasa itu akan muncul 100% untuk tetap konstan atau perlahan berkurang. Sedangkan wanita, awal menyukai seorang laki-laki itu tak melulu 100%, bahkan berawal dari 10% yang perlahan tumbuh namun tak akan habis. Katanya, cinta seorang wanita itu diibaratkan seperti kuku di ujung jari. Sedikit dan kecil. Perlahan namun pasti, ia akan tumbuh sedikit demi sedikit hingga panjang. Jika cintanya dilukai, ibarat kuku yang terpotong. Terluka namun kemudian tumbuh kembali. Bahkan jika lukanya begitu besar yang mengakibatkan kuku itu terlepas, maka seiring perjalanan waktu, kuku itu akan tumbuh kembali. Sedangkan katanya cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar tapi konstan dan (sayangnya) rentan, sewaktu-waktu ia bisa saja meletus memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya. Bentuk gunung itu tidak lagi seperti semula dan jika mungkin bentuk gunung akan seperti semula maka waktu yang dibutuhkan sekian kali lipat daripada waktu yang dibutuhkan kuku di ujung jari untuk tumbuh kembali. Begitu kata seorang kawan membandingkan.
Di sesi pendengar cerita yang baik lainnya, ada pula seorang kawan yang ‘nyeletuk’, seorang perempuan lebih baik menikah dengan seseorang yang menyayanginya meskipun perempuan ini tidak menyukainya dibandingkan dengan perempuan menikah dengan laki-laki yang ia sayangi namun laki-laki itu tidak menyukainya. Kala itu aku diam, berpikir, lalu meminta penjelasan. Ternyata tak jauh berbeda dengan konsep kuku dan gunung yang dibahas sebelumnya. Seorang perempuan bisa belajar menyukai pasangannya setelah menikah, Tapi tentu saja akan lebih baik jika bisa menikah dengan seseorang yang saling menyayangi.
Lagi-lagi pembicaraan tentang masa depan, pasangan, dan pernikahan. Pembahasan ini tak pernah ada habisnya meski aku takut-takut membahasnya. Dia bercerita tentang seseorang yang menyukainya dan kawanku ini pun juga menyukainya. Namun, sesuai dengan prinsip yang kuyakini hingga saat ini, serius atau tidak sama sekali. Ku coba meyakinkan kawanku ini tentang konsep ini, namun tetap saja yang namanya manusia menjadi kurang rasional ketika makhluk bernama cinta menyapa. Ditambah dengan perhatian yang tak seharusnya dari orang yang dia suka. Akhirnya saranku berlalu begitu saja. Aku tau, ini tak mudah, tapi ku coba meyakinkannya, juga meyakinkan orang yang menyukainya, karena jika tak saling menjaga mana mungkin itu bisa disebut cinta. Memang sifatnya wanita yang begitu mudah terbawa perasaan, apalagi saat memperoleh perhatian dari seseorang yang mencuri hatinya, tentu teriakan dunia luar seolah tak lagi terdengar. Pada kondisi ini kau tau apa yang ku lakukan? Ku tanyakan kesiapan mereka, tapi mereka belum menyanggupinya, lalu tak ada pilihan selain menjaga jarak dan menyelesaikan urusan masing-masing hingga Allah menyiapkan mereka. Jika berjodoh tentu Allah akan tumbuhkan lagi rasa itu pada waktunya, jika pada akhirnya cinta itu mati, tentu tak perlu ikut mati bersamanya.
Ah, memang pelik persoalan hati. Semakin banyak kudengar curhatan, semakin banyak pelajaran yang kudapatkan. Lalu kau bertanya bagaimana aku? Ah, biarlah ini kusimpan sendiri dulu. Jika kisah ini menyentuh hidupku, akan kuuraikan dalam isak tangis dalam curhatanku pada Rabb-ku. Jika memang harus, aku akan bercerita dengan seseorang yang bisa kupercaya, seperti dia mempercayaiku. Lalu? Ya biar ku tumpahkan kisahku dan kisah mereka, berbaur menjadi sebuah kisah yang padu untuk dijadikan pelajaran dan kenangan, untuk kemudian menjadi kisah klasik bagi masa depan. Saat kita bisa menertawakan diri sendiri dengan kekonyolan kita hari ini.
Monday, April 4, 2016
Home »
Artikel Cerita
» Biar Aku Menjadi Pendengar Saja
Biar Aku Menjadi Pendengar Saja
Shopee Indonesia | 10:41:00 PM |
Artikel Cerita








