Si bodoh tiba-tiba terbayang dia yang terus meminum kopi, Itu pahit, pahit sekali tanpa gula, tentu. Tapi, si bodoh tetap meminumnya, mengapa? Karena dia suka, dia suka kopi, dia suka sekali pada kopi. Lalu, bagaimana dengan hitungan bodohnya itu? Mengapa? Mengapa dia tetap melakukan penghitungan bodoh? Kemudian, si bodoh menjadi semakin sadar, bahwa nyatanya ia memang lah benar-benar bodoh, ia selalu tak tahu, ia bahkan tak mengerti mengapa ia melakukan itu, si bodoh ini bahkan tak memahami dirinya sendiri, bodohya si bodoh.
Ah, bahkan, sekarang ketidaktahuan akibat kebodohannya ini membuat si bodoh semakin akut, ia mulai tampak aneh, sangat aneh, terlalu aneh, bahkan untuk kamu sekedar ladeni. Benar, si bodoh yang tak hanya bodoh, si bodoh yang juga terlalu aneh, benar, benar sekali. Betapa bodohnya si bodoh, tak jera melakukan hal-hal bodoh yang membuatnya terlihat kian bodoh dalam dunia bodohnya yang bodoh. Aneh pula.
Uhm, apa lagi ya. Ah! Kamu tak pernah bersedia menjawab pertanyaan si bodoh dengan sungguh. Hingga kini, si bodoh bahkan tak tahu mana yang jujur dan mana yang sekedar asal jawab, serta mana yang gurauan belaka. Seperti si bodoh yang tak tahu, kopi ini, kopi itu, dari kopi jenis apa dan darimana asalnya. Saking bodohnya si bodoh, ia tak tahu bagaimana membedakannya. Semua terasa sama bagi si bodoh. Ah, tuh kan! Si bodoh lagi, lagi, dan lagi, selalu tak tahu. Dasar, bodoh. Si bodoh juga bahkan tak tahu mengapa ia begitu ingin bertahan lebih dan lebih lama dari kamu, dari kamu yang bertahan dengan dia yang kamu suka, dan entah masih suka. Ah, si bodoh tak mau memikirnya, otak nya sudah cukup bodoh, ia tak tahu, tak tahu, ia tak mau tahu, si bodoh menggeleng. Ah!
Namun, sungguh, si bodoh benar-benar tak mau kalah dari kamu. Si bodoh itu walau bodoh dan tak punya sesuatu yang membuatnya tak akan tampak bodoh, tapi, apa kamu sadar? Ah, sepertinya kamu tak akan menyadari apapun. Si bodoh itu keras kepala walau isi kepalanya hanyalah ide-ide bodoh, tidak takut sakit karena sakit adalah teman bermainnya, tidak pernah lelah untuk tetap tersenyum dan tertawa karena mereka adalah gurunya, guru yang ajarkan si bodoh untuk belajar berdiri, berjalan, bahkan berlari, menuju kamu, dan juga, si bodoh itu terlalu gengsi untuk kalah dari mu. Si bodoh tentu tak terima, tidak mau.
Entah mengapa, ah, mengapa si bodoh selalu menanyakan mengapa? Ah, dia ini memang bodoh ya, bahkan aneh. Setelah hari ke beberapa hari pun terlewati, si bodoh telah bertekad untuk berbalik arah, menentang takdir, dan pergi menjauh, atau bahkan ia tak keberatan untuk menghilang. Sungguh, si bodoh benar-benar berusaha kala itu, walau pada akhirnya, dia kembali ke rutinitas bodohnya dengan segera, apa itu? Yaitu, menuju kamu.
Oleh karena si bodoh terlalu lemah untuk melenyapkan diri bodohnya, sehingga kembali terlintas ide bodoh di otak bodohnya. Si bodoh berharap, kali ini, setidaknya ia mampu melenyapkan kamu dari tiap celah di otak ataupun ruang hatinya. Si bodoh benar-benar berusaha, walau kamu tak percaya. Itu tak mudah. Si bodoh selalu terjatuh, mengapa? Karena sejatinya, ia bahkan belum sanggup untuk berdiri sendiri, ia selalu sendiri, sendiri dalam perjalanan bodohnya menuju kamu.
Baca Juga >> Sepucuk Pesan Si Bodoh
Sepucuk Pesan Si Bodoh Bab 3
Sepucuk Pesan Si Bodoh Yang Terakhir
Lalu, ketika ia telah mampu untuk berdiri, ia pun mencoba melangkah sedikit demi sedikit, dan ia kembali terjatuh, mengapa? Karena, ternyata ia belum mampu melangkah, ia butuh seseorang untuk memapahnya, namun sayangnya ia hanya sendiri. Si bodoh tak menyerah, ia berusaha lebih kuat, akhirnya ia bisa berjalan. Tak lama, ia pun terjatuh lagi. Ah, rasanya sakit.
Si bodoh tak jarang merasa seperti begitu banyak buku tebal yang di tumpuk di dada nya, rasanya sesak sekali,di tambah pula, saat air mata bahkan bahkan enggan mengalah padanya. Walau dia adalah seorang yang amat sangat dan terlalu bodoh, namun, dia juga manusia, bukan? Manusia terjahat di dunia pun boleh menangis, tapi, mengapa bulir air mata si bodoh meleleh di pipinya? Air mata yang tak tau lagi arti sok jual mahal itu dan tanpa angkuhnya lebih memilih untuk mencair di dalam hati sepi si bodoh. Ah, sungguh, yang ia rasa, hanya sakit.
Si bodoh mulai merasakan hatinya seperti sebuah kopi pahit dalam ampas yang terjatuh di aspal, saat terik siang begitu menyengat, kopi yang di sukainya itu mengering, berkerut, berdebu, tak ada yang menginginkannya, tercampak. Yah, kurang lebih seperti itu.
Namun, karena kebodohannya, si bodoh kembali bangkit. Ia masih berusaha, sendiri, dan akhirnya ia telah mampu berlari. Ia berlari, dan terus berlari, entah kemana. Lalu, apa kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya? Si bodoh terjatuh lagi dan lagi, mengapa? Kali ini bukan karena dia yang lemah. Namun, karena, kamu, kamu yang mendorongnya, hingga jatuh, tersungkur. Itu ulahmu, kamu.
Kamu, yang jahat sekali, oh tidak, kamu sesungguhnya tak pernah jahat pada si bodoh, sungguh. Si bodoh tak cukup bodoh untuk percaya bahwa tentu kamu tak sengaja mendorongnya, hingga ia terjatuh, tidak, ia terjerembab, tersungkur. Si bodoh mengeluh sakit, pada dirinya. Mengapa? Karena si bodoh hanya sendiri. Apa kamu tahu hal itu? Apa kamu ingat apa yang membuat si bodoh terjerembab?
Ini, hanya satu kata ini, satu kata paling jahat yang si bodoh temui sepanjang perjalanan bodohnya menuju kamu, satu kata yang sejatinya begitu ingin ia dengar mengalun dari kamu, tapi tidak seperti ini, tidak dengan rasa yang kamu miliki kala itu, sungguh, jika seperti itu, si bodoh benar tak mau, dia benci mendengarnya, sangat, itu membuatnya merasa sangat, sangat, dan sangat bodoh terjatuh dalam jurang bodohnya yang memberi luka, ia sungguh tampak bodoh sekali.
Walau telah tersungkur begitu kasar, di dorong oleh kamu, namun berkat kebodohannya, ia masih tak sanggup untuk men-DELETE kamu dari file di folder hari si bodoh. Begitu banyak memori tentang kamu yang tersimpan dalam sebuah folder ukuran besar berlokasi di tempat penyimpanan spesial di hardisk hati si bodoh.
Kamu bukan virus kan?
Virus yang dengan sangat menjengkelkannya menjangkiti otak si bodoh?
Dan, entah karena alasan apa, kamu tak henti berkunjung tanpa si bodoh undang, mulai dari Senin, Selasa, Rabu, kamis, Jumat, Sabtu, dan tak terlupa, Minggu. Selama 24 jam setiap harinya. Mengapa kamu begitu usil mengacaukan tatanan otak dan hati si bodoh itu, yang sejak awal memang telah ERROR?
Kamu, kamu seperti bakteri, bakteri yang mungkin bersembunyi dibalik kelezatan roti keju kesukaan si bodoh. Ah, si bodoh tak tahu lagi.
Sehingga, si bodoh terus menjejalkan gagasan demi gagasan bodoh di otaknya untuk menemukan metode efektif mengusir kamu agar tak lagi datang. Sementara si bodoh memikirnya, jusru semakin banyak untaian kata-kata bodoh yang tergantung di otaknya yang kian bodoh, dan ia bahkan salut padamu. Mengapa kamu selalu bisa menjelma menjadi apa saja?
Ketika si bodoh hendak tidur, ia masih melihat wajah kamu, di bantal hitam bermotif tengkorak. Ketika dia nyaris menutup mata untuk terlelap, kamu masih disana, di dinding hijau kamarnya. wajah menyebalkanmu tapi dia rindu itu, muncul tiba-tiba. Ketika si bodoh menatap sepiring nasi kuning di sarapan paginya, kamu pun hadir disana, dengan ekspresi mengesalkan mu yang justru sangat dirindukan si bodoh. Dimana saja, kamu tak jera muncul di dinding kamar si bodoh,
Bahkan, suatu ketika di hari Jumat, seusai shalat Dzuhur di Masjid, saat ia dan seorang temannya melangkah menuju warung buat makan siang, ia, si bodoh itu, melihat kamu, oh bukan, kamu, melainkan seseorang yang mirip sekali postur tubuh bagian belakangnya dengan kamu. Jantung si bodoh berdegup dengan bunyi yang kurang lebih seperti ini kala itu, dag-dig-dug-dug-dig-dag-dug-dig-dig-dag-dug-dig-dag-dag-dig-dig-dig. Tempo yang kian cepat, dan ah! Ternyata itu memang bukan kamu, walau hanya tampak dari kejauhan, tapi si bodoh tetap merasa sangat lega karena itu memang bukan lah kamu, leganya. Haha.
Kapan saja, pagi saat si bodoh terjaga dari tidur lelahnya hingga malam ketika si bodoh hendak terlelap melepas harinya yang melelahkan. Kamu tahu? Ah, mengapa si bodoh selalu menanyakan ini. Padahal jelas-jelas kamu tak akan tahu. Kamu tak pernah tahu, atau tak pernah mau tahu? Ah, si bodoh pun tak mau tahu, ia selalu tak tahu, bodoh. Si bodoh, si bodoh ini bukan nya malah berhenti menyukai kamu saat mendengar kisah kamu dahulu dengan dia yang kamu suka. Si bodoh itu justru semakin salut pada kamu, pada rasa suka milik mu, kepada dia, orang yang entah masih kamu suka, atau tak lagi suka. Entahlah, si bodoh tak tahu, si bodoh selalu tak tahu, bodohnya si bodoh ini.
Setiap hari si bodoh hanya melakukan hal-hal bodoh, tentu, karena ia bodoh.
Si bodoh tahu yang dilakukannya adalah hal bodoh, tapi, karena ia bodoh, ia tetap melakukan hal demi hal bodoh.
Si bodoh tahu kopi itu pahit, apalagi diminum dalam kuantitas yang banyak tanpa gula, tapi, karena ia suka, ia tetap meminumnya, kopi demi kopi ia sesap diantara tenggorokannya. Begitulah cara Si bodoh Mencintaimu..!!








