head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Friday, April 22, 2016

Kubenci Hujan

Google+


Ku benci hujan. Ku benci hujan karena dia tak punya jam tangan, dia tak kenal waktu. Dia tak pernah memberitahumu kapan dia akan datang, sehingga barangkali saja ku punya waktu untuk bersiap-siap dulu sebelum dia datang. Menyiapkan payung mungkin? memakai jas hujan dulu mungkin? atau mencari tempat yang nyaman untuk berteduh. Hingga pernah suatu kali ketika ku pulang kerja, ku terjebak di antara derasnya. Ku tak membawa payung, ku tak sedang berada di tempat yang nyaman, rumah masih jauh. Ku berteduh di halte yang penuh dengan orang-orang payah. Baju basah kuyup, kulit yang menempel dengan baju yang putih pula. Rambut yang biasanya rapih bagai air terjun kini berantakan. Pertama hujan menjebak, memenjarakan, lalu dia membuat waktu hanyut terbuang begitu saja (barangkali hanyut terbawa hingga ke laut).

Sebenarnya ku masih ragu siapa yang harusnya ku benci, tapi hal yang paling masuk akal adalah membenci hujan.

Ku benci hujan. Karena suara berisik yang ditimbulkannya saat beradu dengan atap rumah. Membuat tak pernah bisa tidur ketika malam-malam sendirian. Membuat malam menjadi tiga kali terasa lebih sepi dari malam-malam biasanya. Bahkan membuat gelisah sepanjang malam. Membuat tidur terlalu larut, dan bangun kesiangan.

Ku benci hujan. Ku benci hujan, karena ku benci perpisahan. Dalam kesimpulan, delapan dari sepuluh film drama yang ku tonton selalu menyertakan adegan hujan. Seorang wanita dan seorang pria berjalan beriringan, namun di tengah jalan, tiba-tiba hujan datang. Mereka memutuskan  menembus hujan tanpa pelindung apapun, tanpa mau berteduh meski hujan hampir membuatnya tak bisa melihat apapun. 

Pada adegan lain, si pria menyelamatkan si wanita yang sedang berjalan sendirian di tengah hujan dengan memberinya tumpangan pada sadel belakang sepeda kumbangnya. Yang paling sering kau lihat adalah adegan satu payung untuk berdua. Si pria dan si wanita terlihat begitu bahagia, meski seluruh tubuhnya basah kuyup seperti botol yang baru saja diambil dari kulkas. Adegan itu akan berlanjut ke hubungan mereka yang lebih intim, namun ku juga sudah hapal, bahwa pada akhirnya si pria dan si wanita nantinya akan bertengkar di tengah hujan yang tiba-tiba datang, meski awalnya cuaca terlihat cukup cerah. 

Pertengkaran yang begitu hebat, hingga salah satu di antara mereka akan pergi meninggalkan kekasih atau mantan kekasihnya sendirian. Menangis, berlutut di tengah hujan yang deras. Seakan menyesal dan tak rela jika ditinggalkan kekasihnya begitu saja. Seolah-olah kiamat tinggal tiga puluh detik lagi. Ku sudah berkal-kali melihat adegan seperti itu, tapi setiap melihatnya selalu saja adegan itu membuatmu berkaca-kaca. ‘Dasar picisan’ Bahu tanganmu mengusap sesuatu yang mengalir dari matamu.

Ku benci hujan, karena hujan selalu mengingatkanmu pada beberapa pelukan, Itu sudah lama sekali, tapi ketika hujan yang lain datang lagi, kau masih bisa merasakan hangat tubuh yang memelukmu ketika itu, desir darah yang mengalir seperti sungai di dadanya, detak jantung yang bersahutan seperti rentetan tembakan. Sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Sesuatu yang lalu tumbuh berkembang seperti jamur. Sesuatu yang membuatmu begitu mencintai. Setelah bertahun-tahun, setelah semua tak sepeti dulu lagi, ku berusaha memendamnya, melupakannya, namun tiap kali hujan datang, usaha akan sia-sia. Begitu terus, hingga ku menyerah.

Ku benci hujan. Ku benci hujan karena ku pikir hujan terlalu mencintaimu.


Lebih. Lebih mencintaiku daripada dirimu.


Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+