Diawali dengan dua pertanyaan yang cukup membingungkanku.
Apakah mengingat untuk melupakan?
Ataukah memahami untuk disakiti?
Seringkali ku dengar mereka yang sedang galau mengatakan bahwa sejak kecil kita diajarkan untuk menghafal dan mengingat bukan melupakan. Itulah kenapa mereka susah move on.
Pernah juga ku dengar, bukankah lebih baik kita memahami dari pada sekedar menghafal dan mengingat? Agar kita tak hanya melihat apa yang tampak, tapi mengerti apa yang ada dibalik sesuatu. Alasan sesuatu terjadi, alasan sesuatu terbentuk. Dan ku rasa ini ada benarnya. Dalam pelajaran di sekolah rasanya lebih efektif seperti ini. Ketika seseorang mengerti tentang sesuatu, sehingga bisa menggunakannya di saat yang tepat dengan analisis yang tepat dibandingkan dengan menghafal sesuatu yang cukup banyak dan sepertinya memiliki jangka waktu yang lebih pendek, hanya bisa diingat ketika sering digunakan dan bisa lupa ketika tak lagi digunakan atau dipelajari.
Mengingat atau menghafal kadangkala membuat kita menelan mentah-mentah apa yang kita terima (lihat, dengar, atau rasakan) tanpa memberikan interpretasi terhadap hal tersebut. Dan biasanya proses mengingat ini membutuhkan pengulangan berkali-kali dan akan bisa bertahan selama sering dan masih digunakan. Karena proses menghafal dan mengingat ini bersifat sesuatu yang ‘dipaksakan’ masuk ke dalam otak (pikiran), sehingga sebagian tersimpan dalam memori jangka panjang sedangkan sebagian besar tersimpan dalam memori jangka pendek.
Sedangkan dalam memahami sesuatu kita membutuhkan analisis terhadap sesuatu tersebut, merekonstruksi ulang sesuatu yang ingin kita pahami ke dalam otak (pikiran) kita. Membahasakannya dalam bahasa yang lebih sederhana, yaitu bahasa yang lebih mudah kita pahami dengan kata-kata kita sendiri atau menggambar ulang apa yang kita lihat dengan gambar yang lebih mudah kita ingat. Sehingga proses memahami ini akan lebih mudah diingat karena bahasanya lebih sederhana (bahasa sendiri) dan hasil analisis sendiri dan dapat digunakan dan menyesuaikan pada kondisi tertentu sehingga penggunaannya lebih tepat.
Begitupun hal-nya dalam hidup. Kita terkadang dituntut untuk mengingat berbagai macam hal, sehingga kita lebih mudah mengingat dari pada melupakan. Ketika sesuatu indah, kita cenderung lebih mudah mengingatnya. Tetapi ketika kita dihadapkan pada situasi yang tidak kita inginkan, kita cenderung melupakan semua hal baik yang pernah terjadi dan hanya mengingat hal-hal buruk. Bahkan seseorang yang sedang ‘galau’ dan susah ‘move on‘ mengatakan karena sedari kecil kita diajarkan untuk mengingat bukan melupakan, makanya tidak mudah baginya melupakan seseorang yang membuatnya galau. Tetapi cukup jarang hal ini terjadi ketika bermasalah dengan seseorang yang dulu ‘pernah baik’pada kita, betapa cepatnya kita kehilangan ingatan akan hal-hal baik yang pernah dilakukannya pada kita dan bersama kita. Kita lantas langsung membencinya tanpa menghiraukan kebaikan yang ada dalam dirinya.
Seandainya kita lebih belajar tentang memahami, bukan sekedar mengingat atau melupakan, rasanya kita akan lebih mengerti. Mengambil keputusan yang rasional dan tidak sekedar emosi sesaat. Karena terkadang emosi sesaat bagai bara api yang membakar habis semua kebaikan detik itu juga yang membuat kita melupakan logika dan rasionalitas.
Bayangkan ketika kita bermasalah dengan seseorang dan yang kita ingat hanya kesalahannya dan keburukannya. Tetapi coba kita belajar memahami ketika kita bermasalah dengan seseorang, maka setidaknya kita bisa berpikir lebih jernih dan menganalisis penyebab dan alasan seseorang melakukan hal yang menurut kita salah itu. Apakah benar itu sepenuhnya kesalahannya atau ada andil kita dalam hal ini. Inilah proses yang pada akhirnya melahirkan sebuah pengertian dan saling memahami.
Begitupun ketika ada yang lagi galau dan susah move on. Memang sulit untuk mengerti di saat itu. Tetapi ketika kita hanya mengingat dan terus menerus berlarut-larut dalam kegalauan, tidak akan ada jalan keluar dan penyelesaian. Tapi coba kita belajar memahami dan mengerti, ini akan memberikan hasil yang berbeda. Bukan galau, tapi sebuah kedewasaan. Bahwa setiap kejadian ada alasan dan hikmah dibaliknya. Sehingga masalah tidak membuat kita terus terpuruk tapi belajar. Bahwa patah hati bukan sekedar menghasilkan galau, tapi karya dan ilmu baru, sehingga bisa lebih dewasa, bahwa masalah hidup tidak melulu soal asmara, tapi begitu banyak yang harus kita pikirkan dan selesaikan. Bahwa ada masa depan yang menunggu kita.
Tuesday, April 19, 2016
Home »
Artikel Cerita
» Memulai Untuk Mengakhiri
Memulai Untuk Mengakhiri
Shopee Indonesia | 4:04:00 PM |
Artikel Cerita








