Gigil rindu mana yang bisa kutahan, ketika mengingat pertemuan yang hanya sebatas basa-basi aksara; dipaksa menggelepar, dimainkan deru nafas yang sia-sia, juga dada kita yang debarnya ternyata tak seirama.
Sore itu, secuil senja terlempar dari matamu; kirana yang fasih aku tangkap, melengkapi rentetan bias yang berperan di sepanjang bulan april. tanpa melibatkan pelukan, atau permainan kata-kata yang biasanya kita ramu menjelang malam, ketika dulu aku masih menempati ruang rindu diantara jarak kotaku dan kotamu. sepetak gerimis menyesak di segala ingatan tentangmu.
Barangkali aku harus melupakan usia, mengelabuhi inginku tanpa mempertanyakan rahasianya. tanpa jeda, setiap kali malam menidurkan bola merah yang selalu sama, aku juga ingin menyaksikan senja yang sama-sama menyerah ditutup lelah. sesaat, setelah sekali lagi aku menidurkan pertanyaan di kepalamu; yang semoga akan kau bangunkan pada suatu nanti. pertanyaan tentang sepetak gerimis darimu; jarak terjauh antara kita, yang masih diam dipasung waktu.
Karena bulan April; ialah gigil paling sunyi yang tak mampu dimeriahkan pesta pora perjalanan, bahkan lipatan senja di arcapada, atau gugur daun renggas di jimbaran, juga deru ombak di pesisir selatan.
Selalu, aku teringat langkah kakimu yang terburu-buru, meninggalkanku bersama dingin malam dan bising suara kendaraan di tepi sebuah ruang tunggu. sesaat sebelum kepergianmu, kau menitipkan sebaris ingin yang tuntas kuterjemahkan di kaki wukir mahendra¹dan di puncak tantu pangelaran² ; sebaris pesan untukmu kutitipkan pada setapak, yang kudoakan lewat ribuan langkah kaki, sebab rinduku hanya mampu menyentuhmu lewat isyarat, yang tak habis diguyurkan hujan.
aku masih tak mampu memelukmu. Namun kelak, jika kabar dari jauh itu tiba, akan kumeriahkan sepi yang mengutuk perjalanan dengan puisi, cerita-cerita, juga lagu-lagu yang kau gemari seperti dulu. seperti waktu dimana rinai hujan, masih setia mengetuk mesra kaca jendela dan bermain riang di pelataran. sementara, akan kukabarkan kepadamu rindu yang menggebu, lewat puisi terakhir yang kutulis bersama sepetak gerimis yang menggigilkanku di awal bulan April.
Sunday, April 3, 2016
Home »
Artikel Cerita
» Sepetak Gigil Di Awal Bulan April
Sepetak Gigil Di Awal Bulan April
Shopee Indonesia | 2:49:00 AM |
Artikel Cerita







