Setelah berbelas bulan lamanya ia jadi musuh yang sembunyinya lewat puisi-puisi, akhirnya aku mendekatinya, mengajaknya berdamai, mengakhiri perang yang membuat lelah – atau, kalah. Jadi, kenalkan si sosok kehilangan di bagian dalam tubuhku. Kehilangan yang spesial, karena ia membawa ‘hilang’ yang sama sekali berbeda. Bukan sekadar kunci yang lupa ditaruh di mana, kacamata yang ketinggalan, atau benda-benda lainnya yang biasanya ada di tempatnya tapi entah jalan-jalan ke mana.
Baiklah, aku hanya ingin mengumumkan kepada semua orang; aku sudah menerima kehilangan sebagai sahabatku yang paling setia.
Karena itu, aku sering mengobrol banyak bersamanya agar ia tidak ngambek atau marah. Aku berusaha mempelajari cara membuatnya nyaman dan memanjakannya. Kubiarkan ia mencium mataku yang terpejam, menempeli leherku, berseluncur di dadaku, dan melompat-lompati punggungku. Biasanya akan kumarahi, kubentak dan kupaksa pergi – tapi kali ini tidak. Aku ingin memahaminya.
Aku ingin tahu seberapa istimewanya kehilangan telah mengubah pandanganku yang selama ini Kehilangan mengajarkan aku cara tuhan mengatakan; " Segala yang datang hanyalah titipan sementara yang kebetulan di percayakan kepadaku."
Aku pun belajar mencintai kehilangan...
Mencintai ibarat kata kerja yang mewakili kata ‘pasti ada luka’, dan mengemas dirinya dengan bungkus permen lolipop. Hanya sebuah samaran. Lagipula, kita semua menyukainya, jadi baik-baik saja.
Kamu tahu apa alasannya? Sederhana saja, coba tengok salah satu rak lemarimu, dekat dengan baju-baju koleksimu, sudah berapa topeng yang kamu punyai untuk digonta-ganti sebelum melangkah keluar rumah?” Entah ‘pertemuan’ ke berapa di antara kita yang disertai cerita muram lainnya tentang rasa.
Sejalan dengan rasa, kedalamannya bukan pada seberapa sering bertemu, mengontak satu sama lain, kedekatan lokasi, hadiah dan kejutan-kejutan yang mewarnai. Terkadang, rasa lebih membahagiakan bila belajar jujur - tulus tentang hati dan cinta itu sendiri.







