Tentang apakah rintik hujan akan terus jatuh ataukah tiada
Ini seperti dialog antara kamu dan aku tentang apakah kita akan saling menyelipkan cinta
Ataukah mengatakan bahwa kebersamaan memang bukan milik kita
Sisa air hujan di dedaunan seolah menertawakan karena tak ada lagi guna untuk saling bersua
Dan membentuk asa
Sebab, sisa air hujan yang goyah itu ada karena ditinggalkan oleh hujan yang lenyap
Sama seperti kita yang ditinggalkan cinta
Hanya membekas luka
Hujan hanya sementara namun,
Sesungguhnya ia selalu ada. Kamu dan hujan itu sama
Hanyalah kunjungan singkat tanpa cinta yang benar-benar singgah dan nyata
Aku lelah berkata-kata, kini
Biarlah sajak-sajak hujan itu yang bercerita
Gemuruh guntur adalah suara gundah hati yang menanti tanpa ada yang pasti
Langit mendung kelabu adalah kegalauan hati
Terkadang, langit mendung bergetar menahan tangis, berusaha Membendung air agar tetap terpatri
Maka, sering kali kita ketahui mendung adalah luka hati yang sunyi
Kilat-kilat petir menjadi bukti bahwa langit mendung yang terlalu lama terperangkap dalam sepi
Telah memanggil rintik-rintik untuk segera membentuk tirai air
Dan pasukan air yang memukul-mukul Bumi
Hujan pun memain-mainkan hati tanpa henti
Ia memasukkan badai angin lalu menyentuh kenangan nurani dan kerap kali
Membiaskan mimpi-mimpi
Ini semua hanyalah tentang kamu dan aku yang tak lagi merangkai pelangi
Desir angin dingin milik hujan ialah berkas-berkas pelukanmu
Yang semakin membekukan hati yang biru
Bulir-bulir air hujan itu kadang kala menipu,
Menawarkan sejuk yang sesungguhnya menusuk dalam kalbu
Sebab, tak ada lagi rindu yang membuatku mengharu
Karena kamu semakin jauh berlalu
Yang tertinggal hanyalah aku yang dengan lugu masih terpaku
Menunggumu dalam kelu walau aku tahu
Sesungguhnya tak ada lagi apa pun kecuali langit abu-abu







