head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Sunday, April 10, 2016

Prosa Lugu Di Balik Hujan

Google+

Gerimis adalah dialog antara hujan dan Bumi 
Tentang apakah rintik hujan akan terus jatuh ataukah tiada 
Ini seperti dialog antara kamu dan aku tentang apakah kita akan saling menyelipkan cinta
Ataukah mengatakan bahwa kebersamaan memang bukan milik kita 

Sisa air hujan di dedaunan seolah menertawakan karena tak ada lagi guna untuk saling bersua 
Dan membentuk asa 

Sebab, sisa air hujan yang goyah itu ada karena ditinggalkan oleh hujan yang lenyap 
Sama seperti kita yang ditinggalkan cinta 
Hanya membekas luka 

Hujan hanya sementara namun, 
Sesungguhnya ia selalu ada. Kamu dan hujan itu sama 
Hanyalah kunjungan singkat tanpa cinta yang benar-benar singgah dan nyata

Aku lelah berkata-kata, kini 
Biarlah sajak-sajak hujan itu yang bercerita

Gemuruh guntur adalah suara gundah hati yang menanti tanpa ada yang pasti 
Langit mendung kelabu adalah kegalauan hati 
Terkadang, langit mendung bergetar menahan tangis, berusaha Membendung air agar tetap terpatri

Maka, sering kali kita ketahui mendung adalah luka hati yang sunyi 
Kilat-kilat petir menjadi bukti bahwa langit mendung yang terlalu lama terperangkap dalam sepi 
Telah memanggil rintik-rintik untuk segera membentuk tirai air 
Dan pasukan air yang memukul-mukul Bumi 

Hujan pun memain-mainkan hati tanpa henti 
Ia memasukkan badai angin lalu menyentuh kenangan nurani dan kerap kali 
Membiaskan mimpi-mimpi 
Ini semua hanyalah tentang kamu dan aku yang tak lagi merangkai pelangi

Desir angin dingin milik hujan ialah berkas-berkas pelukanmu 
Yang semakin membekukan hati yang biru 

Bulir-bulir air hujan itu kadang kala menipu, 
Menawarkan sejuk yang sesungguhnya menusuk dalam kalbu 
Sebab, tak ada lagi rindu yang membuatku mengharu 
Karena kamu semakin jauh berlalu 

Yang tertinggal hanyalah aku yang dengan lugu masih terpaku 
Menunggumu dalam kelu walau aku tahu 
Sesungguhnya tak ada lagi apa pun kecuali langit abu-abu



Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+