head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Monday, April 11, 2016

Terima Kasih Cinta...

Google+

Aku rindu, ketika kita bingung harus bercerita tentang apa lagi, tapi tetap ingin melanjutkan percakapan. Aku rindu, ketika kita bertengkar lalu diam-diaman, tapi tetap ingin peduli satu sama lain. Aku rindu, ketika kita berhadapan dengan kondisi yang payah, tapi tetap ingin ada di sisi saling mendukung. Hal-hal semacam itu jadi tidak sama jika bersama yang lain. Sulit rasanya; jatuh cinta pada orang lain, senyaman aku padamu.

Ketika kamu membaca ini, jangan berpikir bahwa aku belum ikhlas melepasmu. Kau tau, aku terlalu perasa–aku hanya belum bisa sekuat kamu melupakan semuanya. Tapi, aku akan belajar, belajar untuk sanggup, sanggup untuk merelakan. Jika nanti ada seseorang yang kau biarkan mengisi hatimu, semoga dia bisa mencintaimu seperti aku (atau bahkan lebih). Dan jika kau telah menemukannya, tolong doakan aku segera menyusulmu.

Tidak pernah terbesit dalam pikiranku, untuk merasakan lebih daripada itu (pada awalnya). Tapi sesuatu itu hadir dan waktu meminjamkanku sebentuk kebahagiaan saat bersamamu. Aku tau, bahkan seluruh tubuhku tau. Aku merasakannya semenjak kita mendekat. Aku tau, aku akan jatuh hati.

Kita berubah menjadi dua orang yang dulunya tidak tau apa-apa menjadi tau segalanya. Sesudah saling mengenal, kita lebih bebas juga terbuka dalam bercerita. Dan lama kelamaan, hubungan ini menjadi eksklusif karena pengetahuan kita mengenai satu sama lain.

Namun, tepat saat aku telah jatuh hati, semuanya merepotkan dan menjadi rumit–tanpa alasan, tanpa pertanda. Semesta tidak peduli apalagi takdir yang tak bisa di ajak berandai-andai. Aku tidak diberi tau dan tetap tidak tau. Hingga aku terus bertanya: untuk apa dua orang saling memasuki hidup satu sama lain, jika kelak mereka tetap harus keluar dari kehidupan masing-masing?

Ini tentu bukan salah siapa-siapa. Bukan kamu, bukan juga aku. Hidup terlalu tidak mau tau, lantas membiarkan kita bersinggungan. Bahagia dan duka adalah satu paket, begitulah kata anonim. Diizinkan atau dihalangi, disepakati atau ditentang, pada akhirnya seseorang yang bukan tujuan akhir kita, tetap akan pergi–dengan cara apapun.

Maka seperti itu pula konsep pertemuan; orang-orang yang sepatutnya bertemu, akan dipertemukan dalam kondisi apapun juga. Kayak kita. Aku tidak pernah mengakui ini padamu, tapi jika kamu ingin tau; aku sama sekali tidak pernah menyesal mengenalmu.

Justru aku akan menyesal; jika pada waktu itu, aku memilih untuk tidak pernah mengenalmu.

Aku ingat, bagaimana girangnya aku ketika mendapati dirimu di sini, atau bagaimana hangatnya hatiku saat mengeja setiap sapaanmu. Keduanya adalah hal yang selalu bisa membuatku tersenyum. 

Terima kasih, karena pernah ingin mengenalku–di saat ada begitu banyak orang lain yang lebih baik untuk kau temani.

Terima kasih, karena pernah menjadikanku bagian dari hidupmu–di saat ada begitu banyak orang lain yang lebih pantas memasukinya.

Terima kasih....


Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+