head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Saturday, April 2, 2016

Dekat Yang Tersekat

Google+

Huruf demi huruf dari banyak alfhabet aku coba ketikkan. Menulis lalu menghapus, menulis lagi lalu kuhapus. Lagi dan lagi terdiam menerawang ke atas, harus seperti apa kata yang mampu lukiskan perasaanku? Rasa terima kasihku, sayangku untuk di kau yang telah hadir di kehidupanku. Terkadang membuat aku kecewa mengenalmu. Terkadang bahkan sering kau membuatku berarti, jauh lebih berarti dari kesalahan-kesalahanku. Mungkin canda sampai kesedihan yang telah kita lalui, hanya bayangan, ya.... hanya membayang. Ternyata kau tak pernah kutatap, kau tak pernah kulihat. Tapi smua yang ada padamu seolah memaksa otakku terus bekerja mengingat-ingat tentangmu.

Awalnya...
Tak pernah terfikir apalagi merencanakan, semua mengalir begitu saja. Kita... kita hanya kenal lewat kata, berinteraksi lewat layar kaca. Semua bagai pura-pura namun tak begitu sebenarnya. (Ini terlalu sulit kujelaskan).

Didasar hatiku pernah terletak beberapa nama. Disela-sela tiap mula ada ketakutan yang sama. Tentang "PERSAHABATAN" yang berakhir tanpa bersama. Semiris itukah kisah yang menghampiri hati, atau aku yang tak hati-hati menaruh hati??

Jika menyayangi berarti memberi seutuhnya. Aku tak ingin mempertaruhkannya pada yang mahir meretakkan.

Karena tak pernah ada yang tau, telah sejauh apa aku memunguti serpihan itu satu demi satu. Mengumpulkannya lalu menyatukannya lagi hingga sempurna, hingga tak ada luka. Lalu semudah itu seorang baru meruntuhkan hatiku hingga lagi dan lagi runtuh.

Aku tahu tak baik terus begini, bagaimana bahagia mendatangi jika membuka hati saja aku tak berani??

Dengan alasan apapun, yang berawal kelak pasti berakhir. Meski sudah melangkah paling hati-hati, kuyakin ada saatnya hati akan sakit lalu sembuh sendiri.

Terkadang lelah terjatuh pada repitisi yang sama. Seorang datang, mendekat, sakit lalu berujung pada aku atau dia yang luka.

Jika boleh memilih, aku ingin menggunting peta takdir. Langsung menuju pada hati yang tepat untuk kusinggahi, agar tak banyak hati yang terlukai. Tapi inilah yang disebut perjalanan.

Bukan soal akhir bukan soal awal. Bukan bagaimana memulainya, bukan bagaimana mengakhirinya. Tapi ini tentang menjalani, bertahan dan mendewasakan dalam setiap pilihan. Smoga aku tak salah memilih hatimu untuk menjadi salah satu kenangan dari perjalananku.

Kamu telah membuka hatiku dari ketakutanku. Sehingga aku benar-benar mampu melihat bukan dari satu sisi, bukan dari "kepercayaan diriku" dan pengharapan tapi dari perasa'ku yang telah bernyawa olehmu-karenamu..

"Meyakini sesuatu yang semu memang tak mudah, tapi itu lebih baik dari pada jatuh pada kesedihan yang salah."

Kini aku bahagia, engkau ada disisiku, mencoba selangkah lebih dekat denganku. Aku senang engkau kini mulai menitipkan secuil hati disudut jiwaku, dan aku bersyukur untuk itu.

Engkau yang kini bersamaku, benarkah?? (Akh... itu hanya lantunan do'aku)

Seharusnya aku tenang kau disini, dikota yang sama. Dibawah langit biru yang sama. Dan ketika aku titipkan salam lewat awan, tak perlu meminta sang merpati untuk mengantarkannya. Dengan menengok keangkasa kau langsung bisa melihatnya.

Dan aku sangat senang... setelah engkau mengenalku beserta sifat-sifatku yang manja atau terlalu kekanak-kanakan. Di kau masih bertahan untuk membuatku tersenyum. Aku tak tahu samudera mana yang telah kau keringkan untuk menampung kesabaranmu itu.

Aku yang masih selalu asyik dalam dunia aman, sedangkan kau yang sudah berani memandang dunia kedepan. Adik pasti belum lupa dengan semua sifat kekanak-kanakanku. Entah apa yang terfikir dalam benakmu kala itu. Jika boleh aku meminta kata sempurna, aku akan memberikannya padamu. Atas semua kelembutanmu aku mulai terlena pada sebuah ingin, apalagi kalau bukan inginkan kau jadi milikku, menjadi kita seutuhnya.

Tapi, Seolah jantungku berhenti sejenak. Ketika aku mulai mengikuti langkahmu, dan ia mulai terlihat jelas olehku. Kamu..... aku mencoba menipis rasaku namun tak mampu. Seolah ingin bertanya, siapakah kamu sebenarnya?? Sahabat lama?? Mungkin iya... teman semasa?? Bisa jadi... (akh itu bukan urusanku).

Aku hanya bisa diam saat menyadari rasa itu telah menguasai diri, tak dapat berbuat apa-apa, tak berhak menuntut apa-apa. Sedang kamupun tak mengerti apa yang kumau. Aku hanya ingin sedikit perhatianmu untuk sekedar membujukku, membantu mencairkan egoku.

Dan akan kupastikan hatiku mudah luluh jika tersentuh.

Ingin sebenarnya ada satu masa dimana kau bisa berada didepanku. Aku ingin membuka lembaran, lembaran dimana hanya ada aku, kamu, kerinduanku, dan harapanku. Tapi kapan?? Akankah itu terjadi?? Kalaupun terjadi, akankah kau rela meluangkan waktumu untuk mendengarkanku?? Ini lebih sulit untuk kubayangkan.

Kita berada pada jarak yang dekat namun tersekat. Seolah ada dinding tebal namun transparan diantaranya.

Engkau terlihat (meski hanya membayang) engkau terasa, namun tak bisa kusentuh.

Semoga dinding itu mampu kita runtuhkan. Agar kita mampu melihat dengan jelas, gambar yang berada pada puzzle perjalanan ini, hingga kita mampu menyusunnya dengan sempurna. Lalu membingkainya agar tetap rapi dan kokoh. Sehingga bila nanti akhir dari awal itu benar datang, ia tetap utuh. Berpisah tanpa ada luka, Kehilangan tanpa ada lagi yang merasa yaitu hatiku..



Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+