
- Bila kau pergi, pergilah--sejauh-jauhnya. Pergilah sampai kau sadar--bila Bumi ini bulat. Semakin jauh kau pergi, semakin cepat kau akan kembali.
- Mungkin ini yang dinamakan bunuh diri dengan cara lain. Aku memutuskan untuk menjauh sementara hati mati-matian menolak.
- Kupastikan aku tidak benar-benar pergi. Hanya saja, kau akan kehilangan seseorang yang membuatmu selalu merasa diinginkan dan dicintai.
- Aku adalah rumah, tempatmu menetap. Dan dia adalah taman tempat mu bermain. Silahkan bermain dulu, jika sudah lelah ayo kembali ke rumah.
- Sempat berpikir kalau kata "jatuh cinta" itu ditemukan saat pagi hari. Waktu terbaik di mana segala rasa yang menyenangkan itu terbit.
- Anggap saja puisi-puisiku itu surat tanpa alamat. Tapi aku percaya, ia lebih tahu ke mana harus menujumu.
- Entahlah, tiba-tiba aku merasa memiliki sepasang mata yang begitu lucu setiap kali melihatmu tersenyum.
- Bertingkah bodohlah sesekali. Tak perlu malu. Kadangkala jatuh cinta mengajakmu seperti itu.
- Ini perihal jatuh cinta yg terlalu mengeluh sakit. Lantas jika berani jatuh kenapa tak berani sakit?
- Aku memang tak bisa berjanji untuk setia, namun kuusahakan sebisa mungkin untuk tak pernah pergi.
- Bagi dua hati yang tak dizinkan takdir untuk bertemu, rindu bisa menjadi petaka yang tak lagi bisa ditanggung.
- Ternyata pelukanku hanya dianggap persinggahan, oleh dadamu yang gemar sekali menempuh perjalanan demi perjalanan.
- Agar kita tak lagi takut pada rencana semesta yang tak bisa diterka. Barangkali itulah salah satu alasan kenapa kau dan aku disatukan.
- Betapa romantisnya Tuhan; menciptakan senyummu dengan kadar memabukkan yang tak bisa disamai minuman jenis apapun.
- Akhirnya kau bersedia untuk menjadi jawaban. Sayangnya, beberapa pertanyaan sudah lebih dulu menghilang.
- Di ingatan seseorang, setiap kita akan sampai pada hilangnya masing-masing. Entah itu dilupakan atau digantikan.
- Akhirnya kata rindu yang sudah kuketik ini urung kukirim, setelah aku sadar kalau kita sedang sama-sama belajar untuk saling menjauh.
- Tak perlu disanggah dengan berbagai bahasa, pagi tetaplah sebaik-baiknya pembuka; pemilik banyak amin untuk bermacam semoga.
- Sepertinya semesta sengaja menyamarkan kabar seseorang, agar aku bisa merasakan khawatir itu seperti apa.
- Tak perlu lagi mengingat aku yang sudah tenang karena abaimu. Kau tentu masih ingat, pergiku disebabkan kata terakhir kalimat barusan.
- Tugasmu hanya tumbuh. Perihal bagaimana cara yang baik merawatmu, serahkan saja pada ingatanku.
- Mungkin kau tak bisa mengukur berapa luas dunia. Namun kedatangan seseorang, bisa saja menjadi keajaiban yang kauanggap menyamai besarnya.
- Dan konyolnya, kita sempat menyalahkan cinta ketika rasa kagum itu berlanjut. Kita lupa kalau takdir juga bekerja.
- Selama masih ada aku, kau masih memiliki seseorang yang menyediakan pelukannya sebagai penampung sedu sedanmu.
- Hargai saja hangatnya, barangkali bisa meniup luka atau mengeringkan darahnya. Demikian baik dadaku mengartikan sisa pelukmu.
- Jelang tidur adalah detik-detik terbaik bagi dua hati yang sudah tak bisa lagi saling sapa, namun masih ingin saling memikirkan.
- Babak terbaik dalam hidup ialah berkumpul dengan orang-orang tersayang; kebahagiaan hakiki yang tak bisa dibeli dengan mata uang manapun.
Lanjutkan...
- Matamu aksara yang kubaca dengan penuh tanda tanya, kedipmu menjelma rayuan, menumpuk khayalku di tempat dimana kita saling memberi peluk.
- Aku simpan belati di saku kirimu, kelak kekasih jika jarak memisahkan kita, pakailah belati untuk membunuh segala ragu.
- Kenalilah pelukku, hingga kelak engkau akan merasa asing dengan dekapku.
- Kita serupa rintik, dibiasakan oleh kesederhanaan untuk sesuatu yang kelak mengenangkan kemewahan.
- Karena tak selamanya ingatanku melibatkan nama, olehnya itu ingatkan aku dengan menyebut namaku.
- Kita pernah saling menatap lalu saling meratap kemudian membiasakan diri untuk saling melahap.
- Demi petapa segala kata, kudiamkan rindu ini agar engkau belajar mengajarinya berkata tanpa perlu kita saling meratapi.
- Jangan terlalu serius menghabiskan malam, mari singgah sejenak menghabiskan sisa kopi tepat di tepian bibirku.
- Kenanglah pelukku sebagai sesuatu yang berulang kali tiba dan tak pernah ingin usai berkali-kali.
- Ibaratkan saja hidup kita seperti roda, toh perjumpaan selalu saja melibatkan perpisahan, sementara suka selalu menemani duka bermain-main.
- Aku bukan tak terbiasa dengan perpisahan, hanya terlalu nyaman saat kita saling menatap.
- Barangkali esok kita akan menemukan pagi dengan suara klakson mobil yang riuh mementingkan dirinya sendiri.
- Telah tuhan ciptkan hari dengan pagi yang meminta kopi berulang kali, hingga kita mati dengan dua hati yang saling mengarti.
- Yang kau kekalkan dari pertemuan adalah ingatan yang tak bisa dilupakan, semoga pertemuan akan terus terulang.
- Di matamu ada harap yang kutuangkan, seduhan harap yang semoga bisa melenyapkan keraguanmu.
- Kita seperti harap yang menafikah segala jarak, sebulan nyatanya tak cukup menjelaskan maksud segenap cinta.
- Ada yang di kabarkan minggu selain jeda, sebuah rindu yang menunggu untuk dipertemukan.
- Cinta, rangkuman segala bahagia dengan hanya temu dan seperangkat cara merayakan rindu.
- Aku ingin berkali-kali jatuh di pelukmu yang selalu minggu, di mana saat aku berharap detaknya lebih lama dari detik jarum jam pada umumnya.
- Hingga kelak ajal menuntas, kita mungkin hanya nama yang diabadikan oleh sepasang nisan.
- Sebut saja upayaku melupankanmu adalah kemunafikanku yang engkau syukuri.
- Kita mesti meragukan hal yang di luar dari realitas kita sendiri, sebelum menemukan alasan untuk tak lagi meragu.
- Rindu semacam kopi hangat yang engkau seduh, tak sama sekali mampu kulekatkan dengan bibirku.
- Semoga kita paham bahwa airmata yang dijatuhkan bukan untuk meratapi kesedihan, melainkan menikmati ketabahan.
- Di halte ini kita menunggu redahnya hujan, saling melekatkan tatapan dengan doa yang sama "semoga hujan tak lekas selesai".
- Kubangunkan engkau dari dekapan selimut, aku butuh kau lebih dari waktu menunggu maut.
- Ku bertanya pada perjumpaan, seberapa meski engkau membutuhkan kehilangan. Barangkali kita adalah takdir yg diceritakan di halaman berbeda.
- Segalanya menjadi malam saat engkau merapikan kamar tidur dan memintaku masuk tanpa mengetuk.
- Ingin kuhadiahi engkau sebuah jam tangan yang detiknya lebih lambat dari detak jantung saat kita saling mendekapkan dada.
- Bahkan untuk segala ketidakpastian yang belum diketahui, tubuh ini telah lebih dahulu paham kelak kita akan hadir sebagai ketiadaan.
- Ada yang lebih menyeramkan dari kematian, saat kita tak lagi menghargai kebebasan berpikir, mengarahkan manusia hanya pada satu warna.
- Bagaimana mungkin aku mencintaimu apa adanya, sementara engkau datang dengan kosmetik berlabel kapitalistik.
- Aku tak datang dengan pelukan, melainkan dengan ratapan yang memintamu untuk menenangkannya dengan dekapan.
Demikianlah sekiranya dan semoga terhibur dan jangan bosan berkunjung di blog ini karena akan selalu ada sesuatu yang indah untuk di baca di mata, didengar oleh ucap dan di lihat oleh telinga....






