head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Tuesday, March 29, 2016

Cinta Beda Agama

Google+

Cinta adalah salah satu hal terindah yang pernah ciptakan. Cinta adalah sesuatu yang unik, sebab geraknya tak terlihat, tak terdeteksi, tak tertebak. Kamu tidak akan tahu kapan dan di mana, bahkan kepada siapa cinta itu tiba-tiba kamu rasa. Dia bisa hadir dari orang yang benar-benar baru, atau kamu baru menyadari rasamu padahal kalian sudah sering bertemu.


Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta. Seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, cinta bisa datang sesukanya kepada siapa saja. Bahkan, kepada seseorang yang kamu sendiri sulit menjelaskannya. Namun karena sifat cinta yang seperti itu, beberapa kita jadi bisa terjebak pada suatu dilema.

Pada suatu hari yang kamu lalui seperti biasa. Tiba-tiba semesta membuatmu bertemu seseorang yang dengannya, tiba-tiba kamu merasakan nyaman yang mungkin belum pernah kamu rasakan. Dia begitu mampu membuatmu betah berlama-lama bercerita, atau hanya sekedar duduk bersama. Hingga akhirnya kamu menyadari bahwa kamu (bahkan dia) jatuh cinta. Tentu kamu tak bisa menyangkal perasaan itu sebab semakin sering kalian bersama, perasaan itu semakin nyata. Tapi semakin perasaan itu tampak jelas, kalian malah jadi cemas. Sebab di antara kamu dan dia teramat terang terbentang batas.

Kamu dan dia, beda agama.

Kalian sama-sama tahu tentang perasaan masing-masing. Kalian sadar benar tentang hal itu. Namun di sisi lain, ada gelisah yang membelenggu batin. Bagaimana kalian akan menjalani hubungan yang berbeda yakin? Bagaimana menjelaskan kepada orangtua masing-masing? Sudah barang tentu orangtua kalian akan menentang keras perasaan kalian. Berbagai cara mungkin akan mereka lakukan agar kalian tak lagi bertemu. Bahkan jika bisa, mereka akan mengusahakan agar kalian saling lupa.

Mengetahui hal itu, kalian jadi saling diam. Obrolan kalian jadi kering dan menyedihkan. Kalian sama-sama ingin menghibur tapi hati kalian masing-masing sama-sama hancur. Kalian juga mungkin sering mengurung diri di kamar, merenungi mengapa hal ini terjadi. Mengapa Tuhan menciptakan rasa ini sementara kalian tak mungkin saling mendampingi? Beberapa kalian mungkin akan mulai memikirkan seandainya kalian satu keyakinan, satu iman. Seandainya dia mau mengalah demi kamu dan memeluk keyakinanmu. Atau bahkan memikirkan kamu yang ikut keyakinannya. Semuanya jadi dilema. Tidak semua orang mampu mengerti pedih yang kamu rasa. Sebab bagaimanapun nasehat mereka, cuma kamu (dan mungkin juga dia) yang tahu pahitnya.

Kalian pun akan berada pada satu keadaan. Keadaan yang memaksa kalian untuk saling melepaskan. Saling merelakan. Saling memberi kekuatan dengan tatapan pedih yang tak tergambarkan. Dan kalian sama-sama berjanji untuk berusaha saling melupakan (kurasa ini adalah hal terpahit dari semuanya). Pada akhirnya, kamu pun harus mengubur perasaan dan segala kenangan itu dalam-dalam. 

Aku bukanlah orang yang tahu persis bagaimana keadaan kalian setelah itu. Semuanya tergantung dari pilihan yang kalian ambil setelah itu.

Perbedaan budaya saja kadang jadi sesuatu yang sulit, apa lagi perbedaan keyakinan. Namun apa daya, apabila cinta memang sudah terlanjur dititipkan. Hal yang bisa aku sarankan kepada kamu yang mungkin tengah bimbang, didatangi cinta yang hadir untuk seseorang yang tak seiman, datangi Tuhan-mu. Pasrahkan segalanya pada-Nya. Dekatlah selalu dengan-Nya. Walau tak segala rencana-Nya terasa menyenangkan bagi kita, yakinlah selalu itu baik untuk kita.



Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+