head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Wednesday, March 30, 2016

Hujan Di Sebuah Pagi

Google+

Ku buka mataku yang sembab karena menangis semalaman, aku tak pernah membayangkan akan begini akhir sebuah hubungan yang sudah terjalin selama 6 tahun berakhir karena sebuah pertengkaran yang tak masuk akal. Pikiranku kembali pada kejadian kemarin sore saat aku bertemu dengan Kevin ya Kevin adalah mantan pacarku yang sudah ku pacari dan aku percayai untuk menjaga hatiku ini namun kemarin sore ia memutuskanku dengan alasan bosan dan ingin mencari yang lebih baik dariku.

Kevin mulai berubah sejak dia bertemu dengan sahabatku yang bernama Gita saat hujan di pagi itu dia menatap sahabatku dengan tatapan yang tidak biasa bahkan sempat ku lihat mereka bermain mata saat di bus yang akan membawaku dan sahabatku ke sekolah aku tidak terlalu curiga mungkin mereka hanya bercanda tapi lama kelamaan mereka sering bertemu tanpa sepengetahuanku dan lebih sakitnya lagi mereka berdua selingkuh di belakangku.

Saat aku melabrak sahabaku dia hanya bilang, “Kamu itu harus nyadar diri Kevin itu ganteng, populer, putih, kaya, dan sedangkan kamu? orangtua saja gak jelas di mana.” Aku langsung menamparnya sekeras mungkin. “Jadi selama ini kamu sahabatan sama aku cuman ingin mengulik dan mendekati Kevin? sahabat macam apa kamu hah?! aku kecewa sama kamu.” Sejak saat itu aku dan Gita jadi seperti tak saling kenal.

“Rissa ayo bangun kamu mau terlambat sekolah ya?” tiba-tiba ketukan pintu yang keras membuyarkan lamunanku.
“Siapa sih pagi-pagi udah berisik ini masih jam 5 pagi tahuu,” aku pun membuka pintu dan.. “Rendy? aku gak mimpi kan? kamu beneran Rendy temen yang suka ngirim email ke aku kan?” aku pun melihat sesosok lelaki yang tersenyum padaku. “iya aku Rendy masa iya hantunya sih, ya ampun Rissa kamu kok lebih jelek dibanding foto yang kamu kirim ke aku ya hahaha.”

“Ih apaan sih kamu, kamu juga beda banget sama yang difoto lebih…”
“Pasti lebih ganteng kan? ya sudah ku duga hahaha.”
“Geer banget kamu Ren ngomong-ngomong kamu ngapain ke sini?”
“Seminggu ini kamu gak balas emailku sih aku takut kamu kenapa-kenapa lagian kan kita udah setahun saling mengirim email tapi gak pernah ketemu, sorry ya ngedadak pagi-pagi buta lagi hehehe.”

“Ya udah gak apa-apa sini masuk Ren.” Sejak Pertemuan kami yang diawali dengan sedikit aneh kami jadi sering bertemu dan saling lebih mengenal satu sama lain hingga saat pagi hari hujan turun dengan deras dan aku terbangun karena ketukan pintu rumahku. “Aku yakin pasti Rendy dasar dia ini aneh banget sih bertamu kok selalu pagi-pagi.” aku membukakan pintu dengan senyum mengembang.

“Hay Rissa ikut aku yuk.”
“Tapi mau ke mana ini masih pagi Rendy.”

Dia tidak mendengarkan perkataanku dan saat sudah sampai di sebuah taman aku melihat banyak lilin yang mati karena hujan dan bunga mawar dengan tuliskan, “JADIAN YUK?” aku tak bisa berkata-kata sambil tersenyum aku menatapnya dengan bahagia lalu aku mengangguk sambil memeluknya di tengah hujan lalu dia berkata, “Maaf ya lilinnya mati tadi tiba-tiba hujan turun.” Aku pun mengangguk dan memeluknya semakin erat. Ternyata aku bisa melupakan Kevin dengan kehadiran Rendy di sampingku, aku sudah tidak memikirkannya lagi dan mulai menjalani hari-hariku dengan ceria bersama Rendy.



Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+