head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Thursday, March 31, 2016

Antara Pemikiran Yang Logis Dan Abstrak

Google+

Dedaunan melambai-lambai gemulai di atas ranting-ranting pohon yang demikian kecil. Seirama dengan desiran angin lirih di tengah kesunyian malam. Kutulis kalimat dengan hati-hati, mencoba untuk merangkai deskripsi suasana. Kulemparkan pandangan ke arah sekitar, canda tawa lepas itu sudah tak lagi terdengar. Kupejamkan mata pelan-pelan, banyak hal terbayang dan membebani batinku. Kurebahkan tubuhku menatap kemilau bintang-bintang di bawah langit tanpa rembulan.

Tambahan abjad yang kini mulai mereka sebut-sebut itu terasa cukup berat kupikul. Seakan harus kumiliki dan kuberikan sesuatu yang lebih dan istimewa pada orang tuaku, terutama dalam hal finansial. Sebagian orang bahkan masih kuat menggenggam satu pemahaman bahwa orang yang menempuh pendidikan sampai sejauh yang kulalui ini, sia-sia jika tak bisa menjadi jalan untuk mendapatkan pekerjaan tetap dan mengangkat ekonomi keluarga dan masyarakat secara umum. Persis seperti stigma bahwa sekolah hanya untuk mendapatkan pekerjaan dan uang yang banyak.

“Orang kuliah itu harus beda dengan orang-orang yang tidak kuliah”. Disebutnya kemudian orang-orang yang kembali ke kampung halamannya dengan membawa sejumlah uang dan pekerjaan tetap. Juga orang-orang yang tak melanjutkan sekolah namun sukses kehidupan ekonominya, menurut mereka. Tak peduli bagaimana keadaan yang sesungguhnya, bahwa mereka yang katanya punya banyak uang dan pekerjaan tetap itu —sepertinya— belum bahagia.

Tak begitu jelas penjelasan atas potongan kalimat terkait dengan perbandingan-perbandingan itu. Kalimat sederhana itu kucoba renungkan dan kucerna, termasuk perbandingan-perbandingannya. ‘Beda’, kata yang sangat umum, bisa ditarik ke sudut manapun. Profesi, pendapatan, perilaku, pengetahuan dan sebagainya.


Kurenungkan lebih mendalam. Hampir seratus persen batin dan fikiranku membenarkannya. Namun tidak dalam segala hal, sebab kehidupan tak bisa terlepas dari garis-garis takdir yang telah Tuhan bentangkan untuk masing-masing orang. 

Tidak semuanya mesti berbeda lebih baik hanya karena keputusan untuk melanjutkan pendidikan. Beda dalam hal tingkah laku, pengetahuan dan cara pandang itu harus. 

Tapi berbeda dalam hal materi, ekonomi dan kedudukan duniawi itu menyangkut takdir orang masing-masing yang katanya sudah digariskan Tuhan ketika masih dalam kandungan. Orang-orang yang tak pernah masuk sekolah atau kampus pun akan punya uang banyak jika rezekinya memang banyak. Demikian pula orang kuliah yang pandai setinggi langit pun jika rezekinya hanya sedikit, tetap saja sedikit meski sudah diusahakan dengan berdarah-darah.

“Sebenarnya mereka paham hal iu. Hanya saja kenyataan kondisi ekonomi yang terlalu mereka persoalkan itulah, pemahaman kemudian tertimbun”




" Intinya situasi apapun itu, jika kamu tau cara menikmati hidup. ya sudah jangan pikir yang lain, Be Yourself Fositif.!! "




Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+