head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Thursday, March 31, 2016

Pemalas Yang Takut Kaya

Google+

Orang malas memiliki bakat untuk menjadi sukses luar biasa karena orang tipe ini tidak bersedia melakukan apa yang ia tidak ingin lakukan! Orang-orang pemalas hanya mengerjakan apa-apa yang membuatnya senang dan bergembira saja, titik. Motivasi mereka adalah panggilan hidup.

Sedangkan orang rajin... bisa melakukan segala hal meskipun terpaksa, akhirnya... jadilah ia seorang pekerja keras. Yang namanya bekerja keras pasti membawa dua hal: kelelahan fisik, dan penderitaan mental, dengan bonus bibit penyakit. Dan... apa sih yang membuat orang-orang rajin ini bisa terobsesi dengan pekerjaan yang melelahkan siang malam? Biasanya motivasinya adalah uang. Di titik inilah yang membuat orang rajin kalah dengan orang malas; sumber motivasi mereka dalam bekerja berbeda.

Lalu bagaimana bisa membedakan orang pemalas dan rajin? Lihatlah ketika dia melakukan pekerjaannya! Kalau dia bekerja dengan malas-malasan dan loyo serta tidak bergairah, berarti dia adalah orang rajin! Kalau dia bekerja dengan tertawa-tawa, bermain-main, dan kelihatan sangat gembira... berarti ia pemalas! Haaa?

kebanyakan pengubah sejarah dunia adalah para pemalas: mesin bajak sawah diciptakan oleh si pemalas yang tidak mau capek-capek membajak sawah, telepon diciptakan oleh si pemalas yang tidak mau repot-repot pergi ke tempat jauh hanya untuk bicara dengan seseorang.

Penemu-penemu sekaliber Thomas Alva Edison yang menemukan lampu pijar dalam ribuan kali percobaan tak pernah merasa dirinya tengah bekerja keras, ia hanya sedang bermain-main. Bahkan Archimedes menemukan teori gaya dorong ke atas air saat ia sedang bermalas-malasan di dalam bak mandi, dan Newton menemukan teori gravitasi bukan saat ia sedang berpikir keras dan rumit, melainkan saat ia sedang bermalas-malasan bersandar di bawah sebuah pohon, lalu ada apel yang terjatuh menimpanya dan kemudian ia bermain-main dengan pikirannya: Kenapa apel ini jatuh ke bawah?

Sama seperti buku-buku hebat lainnya, buku ini tidak menganjurkan kita bekerja demi uang, kita disuruh mendengarkan hati dan mencari panggilan hidup serta berbahagia melakukan apa yang kita kerjakan sehari-hari.

Hebatnya... buku ini bisa membuktikan secara ilmiah, secara empiris, dan bahkan dengan menjabarkan teori Fisika bahwa sesungguhnya alam semesta justru  mendukung orang-orang malas untuk sukses, yaitu mereka yang tidak repot-repot menjadi orang lain, melainkan teguh berkomitmen menjadi diri sendiri dan melakukan apa yang hati mereka minta untuk lakukan.

Sama seperti ajaran Dao-nya Lao zi (Taoisme): Tidak melakukan apa-apa! Kodok tidak perlu memanjangkan lehernya hingga seperti angsa, angsa tidak perlu memanjangkan kakinya hingga seperti jerapah, alam tidak perlu melakukan apa-apa untuk menjadi dirinya sendiri, begitu pula manusia. Penulis yaa menjadi seorang penulis, pemain basket menjadi pemain basket, pemain musik yaa menjadi pemain musik. Dengan demikian barulah bisa hidup sukses.


“Saya memilih orang malas untuk pekerjaan sulit karena seorang malas akan mencari jalan mudah untuk menyelesaikannya.” – Bill Gates


Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+