
"Andien" Ujarnya sembari mengulurkan tangan.
"Hai. Aku Tantra." Aku pun menyambut uluran tangannya. "Udah lama nunggu?" Sambungku.
"Oh, enggak kok. Keadaan kamu gimana? Kata Syila, kamu abis kecelakaan?"
Benar. Dia adalah seseorang yang Syila dan Andre sarankan padaku untuk menemuinya. Andien Virgia Putri. Dan harus aku akui, dia sesuai dengan yang digambarkan oleh Andre. Tatapan matanya juga teduh, yang tampak jelas dengan bulu mata alami. Dia berpenampilan sederhana hari ini. Entah di hari lain. Yang jelas, dengan pakaian semi formal seperti itu, dia tampak anggun dan, dewasa.
"Kamu kok mau-maunya sih, disuruh ketemu aku sama Syila?" Tanyaku setelah obrolan kami berlangsung beberapa waktu.
"Yah, gimana ya. Syila itu teman dekat aku. Jadi.." Dia menoleh sejenak. "Ya gitu deh.." Sambungnya, yang kemudian segera disusul dengan senyum.
"Dasar, mereka. Memangnya kamu beneran masih single? Padahal kalau dilihat dari segi penampilan dan sikap, nggak mungkin nggak banyak yang tertarik sama kamu."
"Iya, sih. Banyak cowok yang deketin aku. Tapi, hatiku udah buat orang lain."
"Kalau gitu kenapa kamu temuin aku. Kalau orang itu marah sama kamu gimana?"
"Nggak akan. Orang itu juga belum tahu soal perasaan aku ke dia."
Dia mengucapkan kalimat itu sambil menunduk. Aku jadi tidak bisa melihat ekspresinya.
"Jadi, kalau pun nanti aku suka sama kamu, percuma dong usaha Syila sama Andre mempertemukan kita."
Dia mengangkat wajahnya sesaat setelah aku mengucapkan kalimat itu. Dia menunjukkan raut tanya di wajahnya.
"Iya. Kan kamu bilang hati kamu udah buat seseorang. Jadi kalau aku suka sama kamu percuma dong usaha mereka. Soalnya dengan petemuan ini, mereka pasti berharap ada sesuatu yang terjalin di antara kita."
Dia tidak menjawab. Dia terus melanjutkan menghabiskan sisa makanan di piringnya tanpa berkata apapun. Entah mengapa. Tapi aku jadi merasa bersalah karena mungkin aku telah menyinggung perasaannya.
***
Sudah sebulan sejak pertemuan pertamaku dengan Andien. Ini pertemuan keenam kami selama satu bulan ini. Selain rupawan, ternyata dia adalah teman ngobrol yang menyenangkan. Walau aku yakin tidak begitu banyak, namun aku mulai tahu bagaimana latar belakangnya. Andien adalah pemilik sebuah butik yang menyediakan item-item fashion khusus perempuan. Pantas saja setiap kami bertemu dia selalu tampak modis. Yah, aku memang tidak begitu mengerti soal fashion. Tapi setiap kali aku melihatnya dengan busana yang dikenakan, selalu tampak pas padanya. Atau mungkin karena kerupawanannya. Jadi apapun yang dia pakai terlihat bagus. Entahlah.
Selain itu, aku juga jadi tahu kalau ternyata kami memiliki ketertarikan yang sama dalam seni lukis. Itulah sebabnya saat ini kami sedang berada di sebuah pameran lukisan. Kami berjalan beriringan sembari melontarkan pendapat kami masing-masing mengenai lukisan yang kami lihat. Sedang asyik melihat-lihat, pandanganku terhenti pada sebuah lukisan yang terpajang dengan tenang di dinding. Lukisan itu berbentuk seperti sebuah bulu yang membentang secara diagonal di kanvas. Namun sekilas, dia juga tampak seperti mata. Bila diperhatikan lebih cermat lagi, lukisan itu tidak terbentuk dari garis-garis dan polesan kuas. Melainkan titik. Entah ada berapa juta titik yang dibuat untuk membuat lukisan ini. Yang jelas ini sungguh menarik perhatianku.
"Menarik, ya. Butuh ketelitian dan ketekunan yang tinggi untuk mewujudkan lukisan seperti ini." Ujar Andien yang sedari tagi juga memperhatikan.
"Kamu baru saja mengatakan apa yang ada dipikiranku." Ucapku sambil menoleh ke arahnya. Dia balas menatapku. Lalu, tersenyum.
"Pembuatnya pun sepertinya masih muda. FR, 20" Timpalnya kemudian sambil mengeja sebuah tanda tangan kecil di sudut lukisan.
"Dan sadar nggak sih. Dari tadi kita ngomongnya pakai bahasa formal?"
"Eh.. Iya. Mungkin kebawa suasana."Ujarnya yang kemudian disambung dengan tawa kecil bersama.
Kami pulang setelah akhirnya memutuskan untuk membeli dua buah lukisan dari semua koleksi lukisan yang ada di sana. Aku satu buah, dia satu buah. Di sini, aku menemukan fakta baru lagi. Walau kami punya minat yang sama terhadap lukisan, namun dia kerap hanya memilih karya dari pelukis yang sudah ternama. Sedangkan aku lebih suka memperhatikan karya-karya pemula. Seperti lukisan yang kubeli. Ini adalah karya pertama dari si pelukis yang berhasil tampil di gallery itu. Itu informasi yang kudapat dari salah seorang pegawai di gallery itu. Aku tidak dapat bertemu langsung dengan si pelukis, karena menurut informasi dari orang yang sama, pelukisnya sedang kuliah.
***
Aku baru saja selesai mandi ketika ponselku tiba-tiba menderingkan tanda panggilan masuk. Tertera nomor tanpa nama di layar ponselku.
"Halo?"
~
(Bersambung)
Cerita Selanjutnya : Apakah Aku Mencintaimu? (Episode Keempat)






