Ada nyaman yang kutemukan dalam sepi.
----------------------------------------------------------------
Dua hari lagi pesta pernikahan Andre, sahabat terdekatku, digelar. Sebagai sahabat, aku kerap direpotkan untuk menemaninya pergi. Entah untuk persiapan baju, rencana dekorasi, mencari tempat, memesan catering, dan tetek-bengek lainnya. Menyebalkan sekali saat aku diminta untuk menemani dia dan Syila mengurus sesuatu. Karena pada saat-saat seperti itu akan terlontar..

"Ra! Lo nggak pengen kayak kami berdua?"
"Itu lagi... Ntar juga bakal ada waktunya." Jawabku setenang mungkin.
"Ya udah, terserah. Tapi jangan lama-lama. Nggak asik nanti, gue udah punya anak, elu masih sendirian aja. Apa perlu gue bantu cariin?"
"Iya, Ra. Ada temen aku yang lagi kosong, tuh." Sambung Syila kemudian.
Aku menjawabnya dengan menggelengkan kepala sambil memalingkan wajah, mencari fokus lain. Ya, begitulah..
H-1. Semua persiapan sudah selesai. Ya, 85% lah. Aku meminta izin untuk tidak direpotkan hari ini. Sebab aku juga merasa tidak ada lagi yang perlu aku lakukan di sana. Biar mereka yang mengurus sisanya.
Motor matic yang setia menemaniku 5 tahun ini kupacu perlahan. Ini adalah kendaraan andalanku sejak pertengahan tahun masa kuliah. Motor yang kubeli sendiri dengan kerja kerasku di sela waktu kuliah, yang akhirnya bisa aku lunasi 2 tahun yang lalu. Dia tak hanya sebuah kendaraan, tapi juga sebagai salah satu saksi bisu beberapa bagian cerita hidupku. Bersamanya juga lah, akhirnya aku tahu rasanya punya seseorang yang istimewa selain orangtua.
Sudah cukup lama rasanya tidak ke tempat ini. Papan nama "Kayou Cafe" terpampang di atas pintu masuk. Tampaknya belum ada yang berubah dari tempat ini. Aku berjalan masuk sambil melihat-lihat dekorasi ruangan di dalamnya. Masih sama.
EISH!!
"Maaf mas. Maaf, nggak sengaja." Tampak seseorang yang memakai pakaian batik -seragam kerja kafe ini- yang agak kerepotan membawa baki yang berisi dengan beberapa gelas dan piring, yang hampir saja terjatuh karena bertubrukan denganku.
"Nggak apa-apa mas."
Aku mempersilahkannya lewat duluan. Setelah dia berlalu, ternyata ada sepasang mata yang masih memandangku. Aku tertegun sejenak saat meihatnya.
"Tantra?"
"E... Hai.."
Sudah 10 menit sejak dia mempersilahkanku duduk satu meja dengannya. Dan belum ada percakapan lain yang kami lakukan setelah itu.
"Kamu, apa kabar." Ucapnya sedikit bergetar.
'Aku tidak pernah baik-baik saja setelah kamu memilih pergi setahun yang lalu. Kamu memilih melepaskan aku yang saat itu sedang memperjuangkan kamu. Kamu memutus tali yang sedang kugunakan untuk mendaki. Membiarkan aku jatuh ke dasar kembali. Kamu pikir aku akan baik-baik saja setelah itu?'
"Baik. Kamu?" Akhirnya itulah yang kuucapkan setelah meredam kesal dan mencoba untuk bersikap setenang mungkin.
"Baik juga. Kamu masih ingat tempat ini?"
'Di tempat ini pertama kali kita ketemu. Di tempat ini pertama kali kita kencan setelah memutuskan untuk jadian. Dan di tempat ini pula kamu mengakhiri semuanya. Bagaimana aku akan lupa semua itu?'
"Yah.. Ini pertama kalinya aku ke sini lagi setelah waktu itu." Akhirnya aku gagal menahan ucapan yang membangkitkan cerita masa lalu.
"Aku minta maaf. Waktu itu.."
"Sudah lah. Lagi pula itu sudah masa lalu. " Ucapku memotong perkataannya.
Dia masih menatapku. Tampak ada gurat-durat penyesalan di dalam matanya. Aku pun menatapnya, tapi dengan guratan kesal dan kecewa di mataku. Lalu mulai muncul hal yang ku benci di matanya. Ada kilap yang terpantul di kelopak mata bagian bawahnya. Dan..
Tes...
"Aku masih ada urusan. Aku pergi dulu." Ujarku seraya bangkit meninggalkan dia dan segelas cokelat hangat pesananku yang belum kusesap.
(Bersambung)
Cerita berikutnya : Apakah Aku Mencintaimu?(Episode 2)






