head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Tuesday, March 29, 2016

APAKAH AKU MENCINTAIMU? (Episode Kedua)

Google+

"Akhirnya..." Ucap Andre sambil menghembuskan napas yang terdengar seperti sedang melemparkan sebuah beban keluar dari paru-parunya.
"Kenapa, Dre?"
"Tadi siang, gue ngelamar Syila." Ucapnya tanpa memandang ke arahku, sambil kemudian mengulum senyum.


Aku terdiam sejenak, sambil mencoba meresapi perasaan Andre. Tapi aku gagal. Tiba-tiba sebuah tanya melintas dikepalaku, yang tanpa kusadari meluncur begitu saja dari mulutku.

"Kenapa lo akhirnya mutusin buat nikahin dia, Dre?"

Andre menoleh sambil menunjukkan raut wajah yang menyiratkan rasa heran. Aku dapat menangkap maksudnya. 

"Maksud gue, Lo baru kenal dia satu tahun yang lalu. Jadian juga baru lima bulan. Dan lo udah berani ngambil keputusan itu. Lo nggak punya kekhawatiran apa gitu?"
"Gue ngerti kenapa lo bisa nanya kayak gitu." Ujar Andre sambil menepuk pundakku sesaat. Kemudian dia melanjutkan.
"Gue yakin lo juga tahu. Sebelum sama Syila, gue pernah ngerasain yang namanya dikhianati. Gue pernah juga patah hati. Gue juga sempat nggak percaya sama makhluk yang namanya perempuan. Dan selama waktu itu, gue benar-benar nggak pernah dekat sama perempuan manapun, dan lo tahu itu. Tapi akhirnya gue juga harus sadar. Dia yang udah ninggalin gue, mungkin pergi juga karena kelakuan gue. Gue jarang banget bisa ngasih perhatian atau seenggaknya nunjukin kalau gue serius sama dia. Saat hubungan itu semakin runyam, ada orang lain yang bisa bikin dia merasa lebih nyaman. Dan dia milih orang itu. Gue menyadari itu sebagai salah satu konsekuensi dari sikap gue..." Andre berhenti sejenak.

"Di saat gue sudah bisa menerima semuanya. Gue ketemu sama Syila. Sama dia, gue belajar banyak hal dari yang pernah gue alami dulu. Dan saat itu entah kenapa gue ngerasa kayak, Syila adalah seseorang yang pas buat gue. Nggak lebih, ataupun kurang. Pas. Walau baru beberapa bulan. Keyakinan itu nggak goyah sampai sekarang. Jadi, yah, inilah yang harus gue lakukan." Sambung Andre ambil mengulas senyum.

Aku mencerna setiap kalimatnya. Namun tetap saja, ada beberapa bagian yang belum bisa aku terima.

"Gue tahu. Lo masih butuh waktu. Tapi gue harap, lo nggak lama-lama terkurung masa lalu. Keburu gue punya cucu!" Ucap Andre kemudian, disusul dengan tawanya. Aku hanya menanggapinya dengan senyum.

***

CKIIITT!! BRAK!!

"....."

Pandanganku kabur. awalnya yang aku lihat hanya terang. Kemudian mulai gelap. Setelah itu mulai memusingkan karena terang dan gelap itu terus berlanjut bergantian. Sampai akhirnya gelap total.

Kepalaku masih terasa pusing. Namun aku harus membuka mata segera. Aku bisa terlambat datang ke pesta pernikahan Andre. Setelah aku bisa benar-benar jelas melihat sekitarku, aku sadar betul, kalau aku sedang berada di rumah sakit. Di tanganku, masih ada selang infus yang terpasang. Sambil memperhatikan aku mencoba mengingat apa yang baru saja menimpaku. Belum aku bisa mengingat semuanya, seseorang masuk dari pintu. Setelah melihatku, dia berbalik sambil berteriak memanggil dokter.  Setelah itu dia masuk, disusul dengan seorang dokter berperawakan gemuk dibelakangnya. Dia mempersilahkan dokter lebih dulu menghampiriku. Kamudian aku dibaringkan dan diperiksa ini itu.

Sembari diperiksa, aku sempat melirik gadis itu. Ya, seorang gadis. Gadis yang memanggil dokter. Belum sempat aku memperhatikan lebih jauh, dokter menyudahi pemeriksaan. 

"Syukurlah, anda sekarang sudah tidak apa-apa. Hanya luka ringan di beberapa bagian. Selain itu, anda sudah sehat sekarang. Saya permisi dulu." Ucap dokter itu, yang tanpa memberiku kesempatan bicara, sudah terlebih dulu berlalu. 

Gadis itu tampak mengucapkan 'terimakasih' saat berpapasan dengan dokter gendut itu. Kemudian dia mendekat. Dia tampak salah tingkah dan tampak enggan memandang wajahku. Dia terus melihat ke lantai. Aku hanya diam, walau sebenarnya aku penasaran. Di tampak bersiap-siap bicara sambil menyapu poni panjangnya yang kemudian dia selipkan di belakang telinga. Lalu dia mengerjapkan mata, seolah sedang memberikan dirinya sendiri sebuah kekuatan. 

Dia terlihat lucu. Aku tidak tahan melihat pemandangan seperti itu.

"Kenapa?" Akhirnya aku memecahkan hening yang sempat terjadi agak lama.

Dia tampak terkisap dan mendongakkan kepalanya menatapku. Kemudian menunduk lagi.

"E.. Anu, kak.. Eh.. Emm... Kakak nggak apa-apa?" Ucapnya, masih menunduk.
"Tantra! Lo nggak apa-apa?" Belum sempat aku menjawab pertanyaan gadis ini, Andre tampak sudah masuk dengan buru-buru dari pintu.
"Nggak apa-apa. Kok lo ke sini? Gue baru aja mau ke tempat pernikahan lo." 
"Telat! Udah jam berapa, nih!"
"Hah! Jam 12? Jadi gue tadi pingsan berapa lama?" Sesaat aku melihat Andre setelah melihat jam dari arloji yang ada ditangannya, kemudian pandanganku terarah pada gadis yang dari tadi seolah dilupakan oleh kami.
"11 jam, kak." Ujarnya disambung dengan senyum, entah apalah itu namanya yang jelas lucu. Cengir?

Aku dan andre terdiam sejenak. Saling bersitatap, kemudian kembali menatap gadis itu.

Gadis itu kemudian menjelaskan semua kronologi dari awal hingga akhirnya aku bisa ada di rumah sakit ini. Dia juga menceritakan bagaimana akhirny Andre bisa tahu aku ada di rumah sakit. Gadis itu memohon agar tidak menuntutnya karena sudah lalai saat menyebrang jalan. Dia menjelaskan juga kalau dia tidak bisa membayarkan biaya rumah sakit karena dia masih kuliah dan hanya kerja sambilan yang penghasilannya juga tidak seberapa. Tapi dia berusaha meyakinkan kalau dia akan ganti rugi untuk kerusakan motorku. Apa boleh buat. Aku juga pernah jadi mahasiswa yang hidup dengan kerja usahaku sendiri. Aku merasa tidak enak kalau menuntutnya banyak. 

"Ya udah lah. Toh gue juga nggak apa-apa ini. Mending sekarang lo pulang. Dari tadi lo pasti udah panik gara-gara ngurusin gue. Makasih ya, udah bawa gue ke sini."
"Iya, kak.Maaf banget. Kalau gitu, aku permisi dulu, kak." Pamit gadis itu.

"Manis ya, Ra." Ujar andre tiba-tiba beberapa saat setelah gadis itu berlalu.
"Iya."

Ada hening yang terasa aneh setelah aku ucapkan itu yang tidak aku sadari.

'Tunggu!'

Aku melihat Andre menahan senyum melihatku.

"Anjir! Apaan!"
"Hahaha!" Tawa Andre meledak saat itu juga.
"Tapi ngomong-ngomong namanya siapa, Ra? Katanya dia kan mau ganti rugi motor lo."
"O iya. Gue lupa!"
"Bego!" Ujar Andre keras sambil menoyor kepalaku.
"Sakit bego!"

Jadilah hari itu aku tidak menghadiri pesta pernikahan Andre. Saat perjalanan pulang, Andre bercerita kalau tadi siang dia mecariku. Syila juga mencariku karena ada teman yang ingin dia kenalkan padaku. Yah. Mereka masih berusaha membantuku lepas dari masa lalu. Beberapa saat kemudian ada telepon masuk di ponsel Andre. Tidak begitu lama, Andre menyerahkan ponselnya padaku.

"Lo beneran nggak apa-apa, Ra? Gue sama Andre khawatir banget tadi. Jadi pas tau kalau lo di rumah sakit Andre langsung nyusul. Gue nggak ikut karena masih capek." Ujar Syila di seberang.
"Nggak apa-apa. Tapi agak runyem dikit sih tadi abis digebukin suami baru lo ini." Andre melotot kearahku.
"Oh iya, tadi ada temen gua yang mau kenalan sama lo. Berhubung lo nggak dateng tadi, jadi gue rencanain lo ketemu sama dia sabtu ini. Bisa kan, Ra."

'masih saja berusaha' Batinku. Daripada memperpanjang, aku mengiyakan saja perkataan Syila. Aku menyerahkan kembali ponsel itu kepada Andre.

"Tadi gue kenalan sama temennya, Syila yang katanya bakal dikenalin ke lo. Cakep, dewasa, dan kayaknya bakalan cocok sama lo. Mendingan lo ketemuan sama dia, deh."
"Iya, iya.. Gue pusing. Kalau udah sampe rumah, bopong gue ke kamar ya." Aku pun memejamkan mata. Tak berapa lama sebuah jitakan mendarat di kepalaku. 
"Sakit bego!"

[Bersambung]

Cerita berikutnya : Apakah Aku Mencintaimu? (Episode Ketiga)
Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+