head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Wednesday, March 30, 2016

Love Heart Di Negeri Sakura

Google+

Cuaca di bulan ini diliputi hujan salju yang tampak menelan pemandangan. Ku pandangi alam sekitar yang berkabung oleh pekatnya salju. Hembusan-hembusan anginnya terasa dingin menusuk kulit.



TOK! TOK! TOK!

Suara pintu diketuk membuyarkan lamunanku.
“Cuacanya buruk bukan?” tanya seorang laki laki seraya menutupkan pintu.
“aku suka kok cuacanya! Membuatku betah lama lama di dalam kamar,” jawabku dengan senyum halus terukir di wajahku. “Kau selalu suka kan lama lama di kamarmu sendiri?” tanyanya lagi.

“Ya. Tentu. Tapi, di kamarmu ini juga sangat nyaman. Padahal, aku kira semua kamar tidur laki-laki itu kotor dan jorok. Ternyata milikmu tidak,” jawabku seraya berkomentar tentang kamarnya.

“Haha… Kau memang pintar menganalisis!” sahutnya sambil mengacak-acak rambutku. Aku hanya tertawa kecil.
“aku bawakan susu cokelat panas untukmu! Diminum, ini buatanku,” serunya dengan gelas berisi susu cokelat panas di tangannya. “Sepertinya lezat!” pujiku lalu mengambilnya dan meminum seteguk demi seteguk. Terasa hangat dan nikmat mengalir lewat tenggorokanku. Dia tersenyum manis dengan mata sipitnya yang khas. Aku menggandeng erat tangannya seraya memandangi alam yang indah meski diliputi salju.

“Huh… Musim salju memang merepotkan!” gerutu laki-laki sipit yang tak asing lagi, Yasuke Onoderu. Di pundaknya penuh dengan salju salju yang terlihat mulai mencair.
“Hmm… Maaf ya, aku merepotkanmu terus,” ucapku seraya membersihkan mantelnya dari salju yang ia lepaskan.
“Tak apa! aku kan sudah biasa,” jawabnya lagi lagi dengan senyum manisnya yang membuatku terpana.
“Ini!” seru Yasuke mengeluarkan sesuatu dari bungkusan yang ia bawa.


“Indah sekali! Terima kasih Yasuke-san,” aku mengambil benda yang berkilauan itu dari tangan Yasuke. Benda itu adalah kristal berwarna pink transparan. Terukir jelas namaku ‘Miyuki Takayama’. Aku memeluk tubuh Yasuke yang tampak menggigil. Dia menengadahkan wajahku ke arah pandangannya. Sekarang, dari jarak yang sangat dekat aku bisa menyaksikan wajah tampannya yang selama ini selalu menyapaku.

(KISS!)

Bibir ini dikecupnya dengan lembut. Semakin dalam cinta kami berdua walau dalam suasana seperti ini. Dia memberiku senyuman manis. Aku pun sama. Dalam dekapannya yang hangat. aku sandarkan diri ini bersama sejuta rasa cinta dan sayangku padanya. “Kau menangis? Kenapa?” bisiknya pelan namun terdengar menggema.
“Maafkan aku Yasuke-san! Maaf!” ucapku lirih lalu memeluk erat tubuhnya. Dia tersenyum simpul. Dan berbisik.
“Tak masalah! Kau tak perlu minta maaf. Yakinlah! Aku akan selalu mencintai dan menjagamu,” bisiknya terdengar menggema lewat telingaku. Ada sensasi merinding dalam bisikannya yang membuatku kian deras meneteskan air mata. Dia memelukku kian kencang.

“Miyuki! Kau siap?” tanya Mariko menatapku serius. Aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.

Ku saksikan di hadapanku, altar Gereja yang penuh dengan bunga dan berdiri sosok Pendeta dengan kitab di tangannya. Ku pandangi wajah Yasuke yang sangat tampan dengan rambutnya yang bergaya baru. Jas hitam yang ia kenakan tampak sangat bagus berdasi pita merah. Dan celana hitamnya yang mengkilat terlihat sangat keren. Dia menggendong tubuhku. Seraya berjalan perlahan menuju altar. Lantunan doa dan janji mengiringi Kami. Cincin putih nan mengkilap di tangannya ia tanamkan di jari manisku. Dan akhirnya kami resmi menjadi sepasang suami istri yang diikat kekuatan doa dan janji suci. Dia mengecup bibir mungilku yang berlapiskan lipstik merah muda yang mengkilap oleh glitter.

“Meski kau tak bisa berjalan! Bagiku kau tetap menawan, Miyuki! Kau adalah cinta yang akan ku jaga sampai mati,” ucap Yasuke kencang di hadapan para undangan yang hadir di Gereja. Aku menatapnya dengan penuh perhatian. Tampak jelas air matanya mengalir. Ku usap dengan jemariku yang dibalut sarung tangan putih berpola renda renda. Dia tersenyum, begitu pun aku.

“Bagiku, cinta tak harus memandang kesempurnaan fisik. Bagiku, cinta adalah cara kita menerima dia yang tulus dengan kasihnya meski dia serba kekurangan,” ujar Yasuke membuatku kagum pada ucapannya itu. “Miyuki! Meski kau cacat, aku tak peduli dengan itu. Yang ku pedulikan adalah cinta tulusmu yang penuh perhatian. Aku tak akan membuatmu merasa susah dalam kekuranganmu itu. Miyuki! aku berjanji, akan selalu menjadi ‘Kaki’ untukmu. Mari berpijak pada satu cinta yang penuh warna ketulusan dan keabadian. Aku sangat menyayangimu,” kembali Yasuke berujar seraya mengecup keningku.

Yasuke telah menyadarkanku bahwa, cinta yang tulus menerima apa adanya itu memang benar adanya. Terbukti dengan sangat jelas lewat kasihnya yang senantiasa membuatku terpukau. Yasuke! tetaplah bersamaku dengan tulusnya cintamu. Yasuke! Janganlah ingkari janji suci yang telah ke luar dari mulut manismu itu. Yasuke! Arigatou! Dengan cinta inilah, kau buat hidupku semakin berarti.




Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+