head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Tuesday, March 29, 2016

Apakah Aku Mencintaimu? (Episode Keempat)

Google+


Aku datang ke tempat ini 30 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan untuk sebuah pertemuan. Dua hari yang lalu, seseorang menelponku.


"Halo.. Dengan Tantra Wijaya?" Suara di seberang telepon.
"Iya, saya sendiri. Maaf, ini siapa?"
"Ini aku, kak. Fahrani. Sebulan yang lalu. Kecelakaan. Rumah sakit."

Sejenak otakku memutar ulang memori sebulan yang lalu. Gadis manis itu, yang belum sempat namanya aku tahu. Lalu aku teringat akan janjinya mengganti kerugian motorku. Dan begitulah, akhirnya dia meminta waktu untuk bertemu.

15 menit aku sudah aku menunggu. Hingga seseorang dari masa lalu menghampiriku. Tanpa bertanya dia duduk di seberang meja. Hatiku mulai diliputi kesal. Rasa enggan menatapnya membuatku memalingkan wajah dan bicara tanpa menatapnya.

"Ngapain kamu ke sini?" 
"Aku ke sini cuma mau ngasih tau kamu satu hal. Mendingan mulai sekarang, kamu jauhi Andien."
"Memangnya kamu siapa, Novi? Kamu bukan siapa-siapa aku lagi sekarang. Ngapain ngatur-ngatur?"
"Tantra, please! Kali ini dengerin aku!"
"Ck!.. Ini bukan urusan kamu."
"Tantra.."

Aku segera pergi tanpa menghiraukan panggilannya. Di dekat pintu keluar aku bertemu dengan Fahrani, yang sepertinya sudah sejak beberapa waktu berdiri di situ. Aku bisa mengenalinya sebab, yah, dia masih sama seperti yang ada di ingatanku. Dia menatapku sebentar lalu melihat ke arah Novi.

"Itu.."
"Kita pindah ke tempat lain." Ajakku. 

***

"Sorry, ya. Lo harus lihat hal yang nggek enak dan ketemu gue dengan keadaan yang nggak enak juga." Ujarku setelah kami berada di tempat yang berbeda.
"Itu tadi.."
"Novi. Mantan gue."
"Kayaknya kakak.."
"Panggil gue biasa aja. nggak usah pake 'kakak'."
"Oke.. Kayaknya ka..mu, kesel banget?"
"Menurut lo. Emangnya ada gitu orang yang baik-baik aja setelah ditinggal pas lagi sayang-sayangnya?"
"Tapi ya nggak segitunya juga kali. Lagian udah lama juga, kan?"
"Kok, lo tau?"
"Em itu.. Ini, janji aku yang waktu itu."

Rasa penasaranku belum terjawab bagaimana dia tahu kalau bubunganku dan Novi memang sudah agak lama berlalu. Dia lalu menyodorkan amplop putih yang aku bisa tebak apa isinya. 

Awalnya aku menolak menerimanya. Sebab aku tahu pasti sulit sebagai anak kuliahan mencari uang untuk biaya hidup sehari-hari. Terlebih kalau harus memikirkan juga cara untuk mencari uang tambahan. Buktinya setelah satu bulan lebih sejak kejadian itu, dia baru menghubungiku. Namun dia tetap kekeuh memintaku menerimanya.

"Lo.. Pelukis?" Tanggapku sedikit terkejut saat dia menjelaskan bagaimana dia mendapatkan uang untuk biaya hidupnya.

Mendengar Rani bercerita semakin lama membuatku merasa kagum. Walau jika dilihat dari wajahnya dia tampak seperti anak manja, namun ketika dia bercerita, tatapan matanya menunjukkan bahwa dia adaah gadis yang mandiri dan tegar.

"Lukisan bagiku itu seperti cerita. Dengannya aku bisa bercerita banyak hal melalui warna, bentuk, guratan, polesan, bahkan titik." Ucapnya di sela perbincangan. Dan aku mengangguk sepaham.

***

Hari ini aku sama sekali tidak konsentrasi bekerja. Pikiranku terganggu oleh sebuah rekaman suara yang Novi kirimkan padaku melalui aplikasi whatsapp beberapa waktu yang lalu. Suara rekaman itu cukup jernih untuk memperdengarkan suara dari dua orang yang berbeda, yang keduanya aku hapal milik siapa. Andien dan Novi. Otakku memutar ulang kembali ucapan yang ada dalam rekaman itu.

....
"Seharusnya lo sadar, lo itu siapa sekarang. Lo udah jadi istri orang. Jadi nggak perlu lagi ikut campur." - Andien
"Gue cuma nggak mau Tantra bersama dengan orang yang salah. Cukup lo udah bikin gue milih orang lain. Cukup lo bahkan ngehancurin persahabatan gue sama Syila. Gue nggak akan ngebiarin lo manfaatin Tantra." - Novi
"Gue mafaatin Tantra? Come on! Gue sayang kok sama dia. Sayang banget malah. Makanya gue nggak akan ngebiarin siapapun milikin dia selain gue!" -Andien.
....

Apa benar yang ada di dalam rekaman itu? Aku bingung. Jujur saja selama dekat dengan Andien, aku merasa bahwa Andien bukanlah orang yang akan melakukan hal seperti itu. Tidak. Dia tidak mungkin melakukan hal itu. Mungkin ini hanya akal-akalan Novi untuk menghancurkan kembali hidupku. Bisa saja dia membuat rekaman itu dengan orang yang suaranya mirip dengan Andien. Tapi tunggu. Novi sudah menikah? Kalau memang benar, mengapa Novi hadir lagi dalam kehidupanku?
'Kak Tantra, jadi ke workshopku nggak?' Sebuah chat dari Fahrani membuyarkan pikiran-pikiranku.
'Harus berapa kali harus gue bilang, sih. Nggak perlu pake 'kak', biasa aja. Iya. Nanti gue langsung ke sana.'
'Iya, iya. Oke deh. Aku tunggu :3' 

Aku menatap ponselku beberapa lama tanpa membalas chat itu lagi. Hingga beberapa detik kemudian aku baru menyadari ada hal aneh yang barusan kulakukan.

'Sialan! Kenapa gue jadi senyum-senyum sendiri gini.'

[Bersambung]
Cerita Selanjutnya : Apakah Aku Mencintaimu? (Episode Kelima)
Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+