head>
loading...
Loading...
AdView adView = baru AdView ( ini ); adView . setAdSize ( AdSize . BANNER ); adView . setAdUnitId ( "ca-app-pub-7572031425631474~2036613002" ); // TODO: Tambahkan adView ke hierarki tampilan Anda.

Thursday, March 31, 2016

Si Gadis Mawar

Google+

Hari yang dipenuhi derai hujan hingga membuatku berpikir, apakah bumi sedang menangis? Menangisi nasibnya yang selalu dilukai tangan-tangan penghuninya? Tidak, bumi tidak pernah mengeluh betapa dirinya terluka, dikhianati. 

Bumi menerima nasibnya. Sepintas anganku melayang menembus waktu, merambah masa lalu. Ketika itu seorang gadis kecil sedang menari di bawah naungan hujan. Berdiri di sampingnya, seorang anak laki-laki yang terlihat lebih dewasa, menutup matanya seakan sedang menikmati guyuran anugerah dari Sang Ilahi.

“Kau tahu, Dik, aku sangat menyukai hujan.” Suaranya yang lembut berusaha mengalahkan riak hujan.
“Oh ya? Kenapa Kak?” Sejenak udara lembut membelai wajah gadis kecil yang penuh tanda tanya.
“Udara ini. Aroma udara ini selalu membawa anganku. Aroma yang khas bercampur tanah sejenak menghapus debu di bumi. Begitu juga Dik. Begitu juga dengan hatiku, sejenak terasa ringan, menguapkan berbagai masalah di hatiku, tenang, dan damai. Meski ketika sisa hujan itu pergi meninggalkanku, beban itu terasa lagi. Indah, ya sungguh indah nikmat-Mu ya Allah..”

“Bayangkan wahai gadis kecilku, jika rintik-rintik hujan itu tak pernah menyentuh tempatmu berpijak ini, matamu yang indah tak kan dapat menikmati keindahan bunga-bunga mawar yang pesonanya menggoda setiap insan untuk memetiknya. Adikku yang manis ini tak akan dapat merasakan betapa lembutnya rumput-rumput nan hijau itu membelai kakimu ketika kau berlari di antaranya..”

Gadis kecil hanya diam membisu, meresapi kata demi kata ucapan lelaki di hadapannya. Lelaki itu terdiam, menunggu respon gadis kecil di sampingnya. Membuka mata dan menelisik setiap sudut wajah mungil si gadis kecil. Gadis kecil yang polos itu terlihat mengerutkan keningnya seakan berpikir dengan seriusnya.
“Hahaha. Lucu sekali wajahmu adikku?! Aku tahu kau tak akan mengerti ucapanku..” Menatap gadis kecil, membelai lembut kepalanya, dan tersenyum pada gadis kecilnya. Si gadis kecil membalas senyumnya, meski guratan kebingungan masih membekas di wajah mungilnya.

Hanya saja sejak itu, gadis kecil tahu hatinya yang polos mulai menyukai hujan seperti lelaki itu. Sejenak khayalku buyar. Sebuah suara tak asing, terdengar memanggilku.
“Sedang apa dari tadi? Kok gak dengar dipanggil-panggil?” tanya suara itu.
Aku hanya tersenyum tanpa membalas pertanyaannya. Aku ingin sendiri, tenggelam dalam khayalku di antara rintik hujan. Seakan mengerti, pemilik suara tak asing itu pergi menjauh, membiarkanku berpetualang dalam masa lalu yang indah.

Ya, kala itu matahari bersinar begitu panasnya, menyisakan peluh di wajah setiap insan yang berada di bawahnya. Di taman sebuah rumah sederhana, gadis kecil duduk di sebuah bangku yang mampu menopang tubuhnya yang mungil.
“Dorrr!! Hayo.. gadis kecilku yang manis ini lagi mikirin apa?!” seorang lelaki mengganggu angannya yang sudah entah kemana.
Ya, siapa lagi kalau bukan lelaki pecinta hujan yang sudah membawanya larut dalam kecintaan itu juga.

“Kakak nih, kerjaannya ngejutin terus..” Gadis kecil terlihat merengut.
“Wahai gadis kecilku yang manis, maafkanlah pangeran tampan ini, yang sudah mengganggu ketenangan jiwa sang putri. Ini sebuah mawar merah yang indah, yang tentunya tak akan mengalahkan keindahan wajah dan hatimu”
“Hahaha. Kakak lucu deh..”
“Nah.. Gitu dong, masa sang putri cemberut terus?! Jelekk ah, gak imut..” Wajah mungilnya yang cemberut, kini terlihat bahagia.

“Jadi ini bunga mawar yang Kakak ceritakan?”
“Ya, tentu saja adikku. Lihat Dik, perhatikan tangkainya yang penuh duri. Duri itu yang akan melindungi mawar indah ini dari orang yang mengganggunya. Wanginya yang akan membuatnya menarik perhatian semua orang dan menanam kecemburuan di hati bunga lain.
Mata gadis kecil semakin berbinar-binar mendengar cerita dari lelaki itu.

“Tahukah kamu Adikku, di hadapanku terlihat mawar merah yang indah”
“Mana, kak?” Gadis kecil celingukan. Dia hanya melihat lelaki itu dengan setangkai mawar merah di genggamannya.
“Bukan, bukan ini adikku. Melainkan gadis kecil di hadapanku ini. Ya, mawar indah itu adalah kamu, Dik. Tumbuhlah wahai mawar merahku, buatlah iri semua gadis lain. Tanamkan keindahannya di hatimu yang masih suci, sebarkan kebaikannya di antara insan manusia. Bahagialah mawar kecilku.”


Share Artikel Ke :
Facebook Twitter Google+