Sepi itu modern. Mungkin kata-kata itu menohok atau, lebih tepatnya, tepat pada jamannya. Sepi memang sering terasa erat dengan modernitas, atau modernitas hanyalah bentuk kesepian yang lain. Seberapa benar ungkapan ini, mungkin setiap orang harus mengambil kaca dan mulai mematut diri, mulai mengukur seberapa besar hal-hal modern di sekitarnya yang mengasingkannya dari orang-orang terdekat.
Coba kau resapi lagi. Misalnya saja pekerja kantoran yang menghabiskan waktu berjam-jam di kantor kemudian pulang setiap sore hari, istrahat sebentar dan tak terasa waktu malam pun tiba dan keluarganya hanya mendapat sebagian kecil jam untuk kebersaman karna ia harus tidur cepat untuk melakukan aktivitas kembali esok pagi yang sudah di lakukannya kemarin berulang-ulang, disibuhkan oleh dokumen-dokumen yang menumpuk, belum selesai kembali diberi tugas lagi ditambah rapat-rapat yang sebenarnya hanya mengambil keputusan satu orang dan bahagianya hanya pas gajian selebihnya sebagian milik hutang yang harus di bayar, pinjaman yang menumpuk yang digunakan membeli besi yang konon katanya rasa puas dan penghormatan dinilai dari besarnya harga dan merk yang sebenarnya dibeli untuk membantu perusahaan agar cepat sampai di tempat kerja dan melakukan lagi pekerjaan yang berulang-ulang dengan baik. Tujuannya mengembangkan usaha orang lain.
Belum lagi dengan bisnisman atau pun pengusaha yang tak mengenal kata istirahat dan hanya menyediakan sebagian kecil jam kebersamaannya bersama keluarganya, mungkin istrinya atau juga anaknya itu pun kalo sempat karena kebanyakan orang yang mencapai puncak sedikit sekali punya waktu luang untuk berkumpul dengan keluarganya atau sahabat atau orang-orang terdekatnya.
Itulah jangan pernah heran jika sebagian pengusaha/bisnisman mempunyai simpanan karena tidak mungkin mereka pulang di rumah hanya untuk menuntut haknya kepada istrinya lalu pulang lagi. Apalagi jika mereka berada di tempat jauh sedangkan mereka punya cukup banyak uang untuk mengganti tugas istrinya sementara dan mereka juga dapat memilih perempuan 2-3-4 atau mungkin berkali lipat dari kecantikan istrinya, belum lagi mereka bisa memilih yang muda-muda bahkan yang berusia ABG. Di jaman sekarang ini kata seseorang " Uang Adalah Raja " bahkan samar aku pernah mendengar " Uang Adalah Tuhan" yang bisa membeli semua selama masih berada di bumi. Tetapi terserah mereka jika ada sebagian orang mengatakan itu karena aku juga tidak peduli dengan arti kekayaan. Aku belum cukup umur untuk mengetahui tujuan sebenarnya memiliki sekian banyak itu untuk apa? Apakah untuk membeli sehat ketika sakit karena akibat terlalu lelah bekerja atau membeli kuburan ketika mengalami kebangrutan lalu sakit jantung atau membeli ruang kamar 2mx2m untuk jadi hunian di rumah sakit jiwa lalu belajar tertawa terbahak-bahak sesekali mengamuk.
Pencapaian seperti itu kapan menemui titik, Sekolah, Bekerja, Bercinta lalu Mati. Terlalu sederhana aku rasa hidup seperti itu, terlalu normal untuk di jalani. Tantangannya mana? Apakah saat mengerjakan tugas perusahaan dengan baik lalu diberi jempol atau
ketika gagal mendapat caci maki atau terkena PHK. Terus, bos yang kemarin yang memberi jempol atas kerja kerasmu sekarang berada dimana? Apakah dia sudah berubah jadi orang lain yang tidak kamu kenali lagi, yang kemarin senyumnya mengembang berubah seketika menjadi sinis, atau ibu jarinya yang berubah menjadi jari telunjuk, menunjuk setiap kesalahan yang kamu lakukan.
“ Ketika berbuat dosa, ia tidak takut neraka, tidak pula menginginkan surga. Tetapi saat berbuat baik, Apakah kau sedang butuh surga??? ”









