Senja membuka mata. Buritan tiga warna dalam satu kuas yang sama, melengkung indah di atas rasa-rasaku yang bergelimangan di tanah. Ia selalu datang tepat waktu, membawakanku secangkir kopi hangat ditambah dengan beberapa sendok pengharapan atau perjumpaan yang tertulis pada lembaran harian. Tapi kali ini, senja membawakanku selembar aksara. ada nama-nama anak-anak sajakku yang ditulis dengan goresan khasnya. Itulah saat waktu menampakkan satu penggal hidupku yang tersembunyi di balik cinta.
Bunda terkasih…
Pertama kalinya ingin ananda panjatkan beribu syukur yang tiada terhingga atas karunia-Nya, Tuhan yang maha kuasa, yang telah menakdirkanmu hidup didunia ini. Sebagai perempuan yang hebat diantara perempuan hebat lainnya. Menjalani setiap jengkal laku kehidupan yang telah digariskan oleh sang pemilik semesta raya ini.
Bunda terkasih…
Garis kehidupan yang menuliskan tetang jalan hidupmu, sebagai perempuan yang telah ditakdirkan oleh Tuhan pemilik setiap insan, dan jalan hidup semua anak manusia. Perempuan yang ditakdirkan oleh Tuhan yang didalam rahimnya dahulu aku pernah bersemanyam. Perempuan yang darinya pula aku dilahirkan untuk menghirup udara dalam setiap hembus nafas ananda. Perempuan yang telah diberi mandat yang agung dan penuh keberkahan, menjaga mengasuh dan mengasihi ananda, dalam mengarungi sisi-sisi kehidupan dalam dunia ini.
Engkaulah perempuan hebat yang tak pernah lelah dan mengeluh akan kalaku masih bersemanyam dalam alam rahimmu, yang kian
Bunda terkasih…
Ananda tak pernah tahu, bagaimana suasana dan kondisimu saat akan melahirkan ananda didunia ini, tapai yang aku tahu engkau menangis bahagia dan penuh haru kala mendengar jerit tanggisku untuk yang pertama kali saatku menghembuskan nafas untuk yang pertama kali pula dalam dunia ini. Peluk dan cium yang pertama kalinya di kening dan pipiku amat terasa sekali hinggga kini.
Meskipun bunda kadang cerewet namun aku tau itu sebentuk kasih sayang. Darimu tak ada keluh kesah yang tergores pada setiap lakumu, dalam mengarungi sisi kehidupan yang telah takdirkan kepadamu. Engkau melewatinya dengan tebaran kasih yang tiada duanya di dunia ini. Engkaulah cahaya kehidupan yang tertanam dalam sanubariku. Yang menerangi setiap langkah kaki ananda untuk mengarungi belantara kehidupan dalam semesta kehidupan yang telah digariskan oleh Tuhan yang maha kuasa.
Banyak perempuan hebat diluar sana, yang ada di bumi ini. Namun, setulusnya engkalah perempuan terhebat yang penah ananda kenal didunia ini. Engkalah perempuan terhebat yang penah singgah dalam hidup ananda. Semoga tuhan selalu memberikan kebahagiaan atasmu hingga nanti.
Bunda terkasih…
Masa kakak-kanak selalu ananda rindukan ketika itu semua aku lewati bersamamu. Indah bahagia yang kurasa selalu menjadi nafas hidupmu ketika aku melewatinya dengan suka cita bersamamu. Dengan kesabaran dan keihklasannmu sebagai pancaran naluri keibuan yang ada pada dirimu. Meski terkadang ananda sering membuatmu lelah ketika tangis masa kecilku membuatmu bersusah payah dan sekuat tenaga untuk membuat ananda secepatnya tak menangis lagi.
Hari-harimu engkau lewati dengan derai tangis dan kenakalan-kenakalan kecil ananda, namun jiwa mu selalu lapang untuk menerima dan menyikapinya dengan penuh kasih untuk ananda. Sering kali ananda pun membuatmu terbangun di tengah malam ketika tanggisku menggusik lelap tidurmu. Seringkali aku membuat dirimu tergopoh-gopoh kala popokku tiba-tiba terbasah dan engkau dengan sejuta kasih mengantinya. Membalas setiap tingkah kenakalan-kenakalan masa kecil ananda dengan belai kasihmu yang penuh hangat.
Bunda… Maafkan ananda yang sampai kini masih belum mampu membuatmu bahagia, maafkan ananda yang sampai saat ini belum bisa menggati kasih sayangmu dan pembelajaran hidup yang pernah engkau berikan pada ananda. Meski engkau pun tak pernah memintanya. Meski engkau tak pernah mengharapkannya dari ananda.
Bunda.. ananda berharap suatu saat nanti ananda ingin membalas kasih sayangmu dengan satu kebagaianmu untukmu, karena ananda tahu tak pernah bisa untuk menggati sejuta kasih sayangmu yang pernah engkau berikan kepada ananda. Dari dulu hingga kini. Dengan apapun jua kasihmu tiada terganti. Ananda janji jika tuhan memberiku ridhonya akan kubasuh kakimu dengan air hangat dan kuminum airnya karena aku ingin surgaku selalu bersih dalam telapak kakimu.
Satu harapan ananda semoga mampu membuatmu tersenyum bahagia sepanjang waktumu. Dan melewati kehidupan yang digariskan Tuhan atas adamu pun jua atas adaku yang
pernah terlahir dari rahimmu. Semoga keberkahan Tuhan semesta selalu menyertamu, dan memberikan pahala dan ganti yang terindah atas jerih payah dan kasih sayangmu yang dahulu hingga kini pernah engkau berikan dalam hidupku. Semoga tetap menjadikamu sebagai embun pagi bagiku, menjadi mentari pagi yang menyinari se- isi bumi bagi ananda, menjadi berbintang malam yang gemerlap dalam sepinya malam, tetap menjadi rembulan yang selalu menyuguhkan akan indahnya untuk pejalan malam dalam gelap malam hingga pagi menjelang.
“ Pada sujudku aku berserah, pada doaku aku meminta, pada dzikirku aku hilangkan resah, dan pada kakimu aku ingin mencium surga; ibu. ”
Salam hanggat dan peluk mesra dari ananda...










