Rindu masih merajuk di sudut ruangan. Katanya, dia tidak butuh apa-apa selain pertemuan. Lebihnya, mungkin mendapat perbincangan panjang yang tak habis-habis. Sesekali ada senyum yang mampu mengobati luka, atau tawa yang menjadi tabungan kebahagiaan untuk waktu-waktu nanti diputar kembali sebagai kenangan. Bahkan diam yang nyaman akan menjadi begitu berharga dalam kebersamaan.
“Hujan butuh pelukan,” ujarnya menerawang. “Mungkin ia lelah mencurahkan seluruh perasaan dan membuat tanah menjadi basah, tidak ada kehangatan untuk keduanya.”
“Caranya mengungkap rindu berbeda dengan kamu,” ujarku menenangkan resah yang tampak masih berkepanjangan. “Jika kamu ingin pertemuan, tetapi jarak menjadi penjara, maka kamu harus membuat pilihan.”
“Tentang apa?”
“Bertahan dengan perasaan yang tampak tak berbalas, atau membuka hati pada yang selalu ada. Hidup selalu tentang pilihan-pilihan, Rindu.”
“Aku tahu apa yang aku inginkan. Aku tahu bahwa bertahan memang tidak pernah mudah. Hanya saja, aku tidak lagi yakin, kata-kata yang pernah ia lontarkan bukanlah sekedar ilusi. Bisa jadi, aku salah dengar. Bisa jadi, aku hanya terlalu senang karena dia nyaris mengatakan apa yang selama ini kutunggu. Bisa jadi, aku hanya terlalu berharap namun begitu takut untuk melihat kenyataan.”
Rindu menatap badai yang masih bergemuruh di luar rumah. Angin mematahkan ranting-ranting dan membawa dedaunan terbang, menjauh. Kemudian, ia sibuk membandingkan dengan hatinya yang tidak lagi selamat, setelah malam itu.
Pada akhirnya, aku mengabaikan nama. Jauh di dalam hati, aku tahu siapa yang aku minta. Hanya saja, Ia Yang Maha Tahu.







