Meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah yang disegani kaum musyrikin Quraisy, membuat mereka semakin berani mengganggu Rasulullah SAW. Oleh karena itu, jika warga Kota Thaif mau menerima Rasulullah,
kota ini mungkin akan menjadi tempat berlindung kaum Muslimin dari kekejaman kaum musyrikin Makkah. Untuk menghindari penganiayaan yang lebih berat dari kaumnya, perjalanan Rasulullah ke Thaif dilakukan secara diam-diam dengan berjalan kaki.
Namun, apa yang didapat lelaki mulia tersebut?
‘Abd Yalail ibn ‘Amr salah satu pemuka Thaif berujar “Berarti kain penutup Ka’bah telah terkoyak, Jika sampai Allah mengutusmu menjadi Rasul”. Ujaran yang tak jauh beda keluar dari Mas’ud ibn ‘Amr Ats-Tsaqafy yang menyebut dirinya orang agung Thaif, “Aoakah Allah tidak menemukan orang lain untuk diutus?”. Sementara Hubaib ibn ‘Amr yang bijaksana namun tak mau menyelisihi kedua kakaknya juga menolak. Dia berkata “Maaf, aku tak ingin bicara denganmu. Andai benar engkau nabi, membantah dan menyanggahmu akan menjadi kecelakaan bagiku. Andai engkau berdusta atas Allah, maka tak layak bagiku bicara dengan penipu.”
Setelah 10 hari beliau tinggal, orang-orang Thaif makin marah dan tidak senang atas seruan beliau. Mereka berkerumun, mencerca dan meneriaki beliau. Dari dua barisan mereka mengajar dan melempari beliau dengan batu. Tubuhnya lebam, luka luka membekas di kakinya, dan darah membasahi terompahnya. Zaid bin Haritsah membela dan melindunginya. Tapi, kepalanya juga terluka akibat terkena lemparan batu.
Beliau dihinakan dan diusir. Beliau terus dikejar dan disakiti hingga tiga mil kemudian sampai di kebun anggur milik Utbah dan Syaibah ibn Rabi’ah. Di sinilah penduduk Thaif meninggalkan Nabi dan kembali ke rumahnya masing-masing. Sedangkan sang Nabi, dengan tertatih beliau duduk dan beristirahat di bawah pohon anggur. Beliau tampak kepayahan dengan menahan rasa sakit zhahir maupun batin. Sedikit demi sedikit, beliau kembali tenang.
Nantinya di Qarnul Manazil, sang Nabi menengadah ke atas. Segumpal awan menaungi beliau dan disana tampaklah Jibril. “Sesungguhnya,” ujar Jibril, “Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan Dia telah melihat apa yang mereka perbuat atas dirimu. Allah telah mengutus malaikat yang menjaga gunung agar engkau menyuruhnya melakukan apapun yang kau kehendaki atas kaummu”.
“Wahai Muhammad,” malaikat yang ditunjuk Jibril itu berseru,’Ini telah terjadi, dan apa yang kini kau kehendaki?Jika engkau menginginkan untuk meratakan Akhsyabain, yakni Jabal Abu Qubais dan Qa’aiq’an, dan menimbunkannya pada mereka, tentu akan aku lakukan!”
“justru aku berharap”, jawab sang Nabi teduh,” Agar Allah mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka orang-orang yang akan menyembahNya dan tak menyekutukanNya denga sesuatu pun.”
Memaafkan
kita nih, sebagai manusia, musti belajar seperti Sang Nabi. Memaafkan. Ya walo kadang dongkol itu perlu juga. tapi nggak segitu gitunya kalo terus-terusan bikin manyun. nanti malah memberatkan langkah kita loh.
percaya nggak, kalo memaafkan itu menyehatkan dan kalau marah itu bikin sakit?
Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.
kebayang kan, gimana jantung kita ditekan sedemikian rupa. nyesek pastinya. nggak aneh kalau orang bisa terserang asma tiba-tiba saat marah. atau tergagap gagap pas kita ngomong saat marah. kalau sudah begini pasti sakit kan?bikin hidup nggak beres deh.
Menurut penelitian, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress (tekanan jiwa), susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
kenapa kita nggak mencoba bersabar dan memaafkan. ada lho yang bilang, puncak kemarahan itu sebenarnya adalah diam dan bersabar. nah, ketika kita mampu mengendalikan emosi dan kemudian memaafkan, kita bisa memukul balik orang yang melukai kita dengan sangat elegan. bahkan, mereka bisa menjadi teman terbaik kita.
Sang Penyembuh Luka
Nah, inilah yang dinamakan penyembuh luka. cukup mudah kan?cuma memaafkan. klo dipendam terus disalurkan ke kemarahan, wah luka itu bakalan nggak sembuh-sembuh deh. kayak kita membiarkan tumor ganas bersarang di hati kita, terus menjalar dan membesar. menyita seluruh waktu kita dan membuang semua kesempatan untuk melakukan kegiatan positif lainnya.
mudah tapi nggak gampang!tapi ya bisa!jadi lakuin saja, pasti nanti dapat manfaat yang besar.
Memaafkan memang kadang menjadi hal yang sangat susah untuk dilakukan. Betapa rasa tinggi hati yang senantiasa bersemayam di hati kita akan terus mendorong kita untuk tidak mau memaafkan. Padahal dengan memaafkan, berarti kita melepaskan beban dan menghindari kerugian di kemudian hari.
Kecenderungan orang, secara naluriah, jika mendapatkan sesuatu yang buruk dari orang lain adalah bereaksi negatif. Dalam hatinya akan muncul perasaan dendam. Kemungkinannya: ia akan membalasnya dengan perlakuan yang sama, atau ia akan membalasnya dengan perlakuan yang lebih buruk dari yang ia terima.
Apakah membalas dengan perlakuan yang sama lantas perasaan dendam itu akan hilang? Tidak. Perasaan negatif itu akan terus muncul tanpa bisa dibendung, kecuali dengan memaafkan. Lalu, setelah membalas perlakuan buruk dengan yang lebih buruk, apakah perasaan dendam itu hilang, karena puas dengan balasan yang lebih? Sekali lagi tidak. Perasaan dendam tidak akan hilang, walau perlakuan buruk telah dibalas dengan yang lebih buruk.

Untuk itulah, memaafkan menjadi suatu hal yang akan sangat bermanfaat bagi kita. Dan salah satu manfaat terbesarnya adalah kemampuannya menyembuhkan luka-luka di hati kita. Maka marilah kita saling memaafkan, selagi nyawa masih melekat di badan dan waktu masih kita genggam.
sumber pustaka :
Ilustrasi bagian awal diambil dari buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” oleh Salim A Fillah
Untuk yang penelitian diambil dari websitenya Harun Yahya






