Meskipun kembali menceritakan hujan. Namun hujan kali ini berbeda. Hujan pada cerita kali ini tak lagi menjadi tokoh utama. Ia kuperankan sebagai sosok lain dari cerita sebelumnya.
Namun aku selalu berdo’a
“Ya Allah, kenalkanlah aku dengan diriku”. Berdo’a agar Allah menyingkapkan ilmu-Nya tentang diri ini.
Berdiskusi dengan orang-orang sukses, mendengar cerita dari orang-orang luar biasa adalah sebuah bahan bakar yang luar biasa untuk memompa semangat dan memotivasi diri. Jika mereka bisa, kenapa kita tidak. Jalan yang mereka lalui bukanlah jalan mulus, bukan jalan mudah, sulit dan panjang, namun bisa.
Tulisan ini lahir ketika berada di bawah derasnya hujan dan kuatnya arus air yang mengalir. Di bawah dinginnya tetesan air hujan yang mengguyur, kuatnya angin yang menerpa tubuh yang terus berjuang menuju tepian dan persinggahan, pikiran-pikiran ini meluncur bersama tetesan hujan yang membasahi bumi.
Perjalanan singkat yang terasa panjang ini merupakan analogi yang kugunakan untuk menjelaskan tentang sulit dan terjalnya jalan yang dilalui orang-orang luar biasa dan orang sukses tersebut, ku jabarkan kata-kata yang sempat ku ikat sebagai kata kunci.
Bermula dari sebuah tekad untuk menerobos hujan yang tak kunjung berhenti. Hujan yang semakin ditunggu semakin besar curahan air yang ditumpahkannya. maka dengan sepenuh hati mencoba meyakinkan diri. Meski dalam langkah yang belum pasti, bismillah, niat dan bulatkan tekad, Tak banyak yang melakukan hal serupa, namun menurutku, inilah analogi jalan langka yang dihindari orang-orang itu, jalan sulit yang penuh tantangan (dengan tangan mengepal dan penuh keyakinan).
Dengan semangat yang masih tersisa, Menelusuri jalan yang cukup panjang dan berliku (memang seperti itu rute jalannya) Setidaknya mari menikmati jalan ini, menikmati dingin, menikmati angin, menikmati hujan, menikmati kebersamaan ini. Menikmati adalah bentuk syukur yang harus selalu hadir dalam diri agar kita tak pernah menyalahkan apapun yang terjadi, nikmati saja dan enjoy it.
Terkadang tetesan air dari langit tak selamnya jatuh tegak lurus dengan bumi. Angin membawanya hingga ia datang dari berbagai arah.
Kadang harus berjalan, sesekali berlari, dan juga terkadang berhenti untuk mengumpulkan kembali energi dalam melanjutkan perjalanan. Di suatu tempat persinggahan untuk mengumpulkan kembali energi yang tersisa salah satu payung harus pergi bersama pemiliknya mengejar waktu yang menagih amanah lain. Akhirnya tersisa satu payung penyelamat. Lagi, Aku memutuskan untuk tak menggunakan payung. Menghadang hujan, hendak melangkah, namun sayang, hujannya terlalu besar untuk dihadapi, sekali guyur bisa basah semua. Kuurungkan niat untuk melangkah tanpa payung. Aku tertawa dan mungkin menertawakan diri sendiri. Ketika hendak menghadapi tantangan bukankah harusnya juga memiliki persiapan yang baik jika masih bisa diusahakan agar ada energi yang tersimpan sebagai investasi di waktu selanjutnya di masa depan. Akhirnya kembali menyusun strategi untuk menembus hujan. Dengan langkah yang kadang tak seirama dimana langkah lain harus menyesuaikan dengan kecepatan yang lain. Akhirnya kembali menyamakan langkah, menyesuaikan agar tak ada yang terinjak. Begitulah hingga berhenti di persinggahan berikutnya.
Mencari-cari cara lain agar tetap mencapai tujuan dengan lebih baik. Ya, mencoba mencari strategi lain dan akhirnya berhasil. Tempat yang paling nyaman menurutku untuk melepaskan lelah setelah bertarung bersama hujan ialah keluarga. Ya inilah tempat tujuan terbaik dengan melalui perjalanan merentas hujan dan melawan angin. Selalu ada kenikmatan.
Beberapa kata kunci yang kujabarkan di atas, adalah makna yang kuikat. Ini adalah kata yang harus kuhadirkan dan kupahami lagi agar jarak ku dengan kesuksesan itu tak lagi jauh.
Mengenal diri
Luruskan niat
Menentukan pilihan
Bulatkan tekad dan yakin terhadap pilihan
Membangun kebersamaan hingga melahirkan jejaring sosial
Investasi, investasi yang kuikat kemarin adalah investasi pada pendidikan, karena investasi dibidang pendidikan akan menjadi investasi yang berharga di masa yang akan datang, karena pendidikan adalah jalan meraih ilmu, dan ilmu adalah harta yang berharga dan bisa disebar tanpa menguranginya.
Dari semua point itu maka yang perlu melandasi semuanya adalah kesungguhan. Seberapa yakin untuk meraih tujuan itu, seberapa kuat azzam yang telah kutanamkan dalam hati meraih keinginan itu. Keinginan yang tak sekedar dituliskan namun juga diusahakan, dan akhirnya serahkan pada Allah, yang paling mengetahui apa yang terbaik untuk kita.
Allah is the one who knows you best. Alah knows what in your heart. We’ll find the peace at last if we just have faith in Allah. (Disadur dari lagu Maher Zein feta Irfan Makki ‘I believe”)
Yah pada akhirnya semuanya hanya diserahkan pada Allah. Karena ” Kunci kesuksesan tidak hanya dari kecerdasan, dan tidak juga dari yang lain, Tapi hanya dari kedekatan Kita dengan Allah ”. Karena Allah lebih memahami kita dari pada diri kita sendiri.
Hingga kita sadari bahwa apapun yang kita inginkan, kuncinya adalah “Jangan pernah terputus dari Allah”. Koneksi dan kedekatan kita dengan Allahlah yang harus dibangun dan ditingkatkan, hingga Allah meridhoi setiap langkah-langkah kita, dan jarak antara kita dan kesuksesan semakin tipis. Siapapun kita, ketika Allah meridhoi langkah kita, maka tak ada yang tak mungkin, selalu ada “MIRACLE” (keajaiban) yang Allah berikan.







